Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Beberapa tahun yang lalu, kehidupan Apo, 32 tahun, dan keluarganya sungguh sangat berat.

Apo merupakan salah satu warga desa Penyengat yang masih menggantungkan penghasilnya pada perkebunan. Namun karena keterbatasan peralatan dan lahan, hasil yang didapat pun tidak maksimal, pendapatannya hanya berkisar Rp 300.000 hingga Rp 500.000

“Mungkin karena lahan yang tidak besar dan tidak fokus sehingga hasilnya tidak banyak,” ujar Apo.

Apo memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa meningkatkan perekonomiannya. Kemudian ia memutuskan untuk bergabung bersama Kelompok Bina Tani yang ada di desanya. Apo bersama dengan kelompok Bina Tani kemudian mendapatkan pembinaan dari departemen Pengembangan Masyarakat PT RAPP yang mengarahkan pada program One Village One Commodity (OVOC). 


Salah satu petani nanas di Desa Penyengat

OVOC merupakan program yang mengajak masyarakat desa untuk memilih hasil tani seperti apa yang cocok untuk menjadi ciri khas desa mereka, dan kemudian hasil tani tersebut akan mereka jual untuk menjadi sumber penghasilan masyarakat desa. Melalui program OVOC ini juga, RAPP akan memberikan pelatihan tentang tata cara dan metode pertanian yang modern.

Gading Sayoga, selaku Kordinator Pengembangan Masyarakat PT RAPP mengatakan program One Village One Commodity adalah program pengembangan masyarakat  RAPP di mana satu desa punya satu produk unggulan yang sesuai dengan daerah tersebut. Dengan jenis tanamannya disesuaikan dengan tanah yang ada di daerah itu.

Sosialisasi Program One Village One Commodity

 

“Seperti di daerah penyengat ini cocok untuk tanaman seperti Nanas. Kami mencoba mengembangkan dan memperkenalkan kawasan ini sebagai wilayah penghasil Nanas kepada masyakarat,” ujarnya.

Nanas yang dihasilkan dari hasil pertanian di desa Penyengat, kemudian akan dijual dengan nama Nanas Penyengat.

Saat ini program OVOC sudah diluncurkan di 4 kabupaten yaitu Siak, Kampar, Pelalawan, Kep. Meranti. Beberapa desa lain juga sudah mulai menikmati hasilnya, di antaranya desa Kerinci Barat yang memproduksi Jambu Kristal dan desa Lalang Kabung yang memproduksi Jambu Madu.

Program ini dimulai dengan sosialisasi, pelatihan sesuai dengan produk yang telah disepakati bersama. Setelah itu para petani dilengkapi dengan sarana produksi seperti benih pupuk dan pestisida juga pelatihan pemasaran sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ada dua jenis Nanas yang dihasilkan dari desa Penyengat. Nanas dengan grade A memiliki buah yang lebih besar dengan harga dengan harga Rp5500 yang lebih mahal dibandingkan grade B yang dijual seharga Rp3500.

Dalam waktu kurang dari dua tahun masyarakat desa Penyengat sudah dapat merasakan hasilnya.

 “Dulu penghasilan kami hanya sekitar Rp300-Rp500 ribu per bulan. Sekarang bisa sampai Rp2,5 juta per bulan dan bisa untuk biaya kuliah,” ujar Apo.

Program ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat setempat .

 

Artikel Lainnya

Belajar Kritis Menyikapi Mitos Kertas
Belajar Kritis Menyikapi Mitos Kertas Tirto.id mengajak pembacanya untuk lebih bijak menyikapi berbagai mitos yang melingkupi industri pulp dan kertas di era teknologi modern ini. Salah satu mitos p...
Tim Siaga Kebakaran APRIL Berlatih untuk...
Tim Siaga Kebakaran APRIL Berlatih untuk... Tahun 2017 merupakan tahun kesuksesan bagi tim Siaga Kebakaran APRIL. Mereka berhasil melalui musim kemarau tanpa insiden besar di sekitar area operasi perusaha...
Kisah Sukses Pengusaha Madu Kelulut Berk...
Kisah Sukses Pengusaha Madu Kelulut Berk... Siapa sangka, media sosial bernama Facebook, telah mengantarkan Juanda, seorang pria asal Sungai Apit, Kabupaten Siak, Indonesia, menjadi seorang peternak Madu ...
 Bagikan  Email  Cetak