Environmental Sustainability Jobs

Karir

Bergabunglah bersama kami untuk menciptakan dan mengembangkan masa depan yang berkelanjutan

 Bagikan  Email  Cetak

Digital: Susan Natassya

Mendapat beasiswa dari Tanoto Foundation, menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada asosiasi mahasiswa penerima beasiswa Tanoto Foundation (Tanoto Scholars Association) yang waktu itu baru saja didirikan, langsung bekerja di Asian Agri selepas kuliah—salah satu perusahaan minyak sawit terbesar di Indonesia yang didirikan oleh pendiri Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto—hingga pindah ke posisi yang lebih tinggi di Grup APRIL. Perjalanan karier Susan Natassya mungkin terdengar begitu mulus jika kita tidak pernah mendengar perjuangan keras di baliknya.

“Pertama kali saya mendaftar untuk mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation, saya ditolak,” ujar wanita berkacamata itu, “saya bahkan tidak lulus tahap administrasi.”

Susan mempelajari ilmu komunikasi di Universitas Sumatera Utara di kampung halamannya, Medan. Pada tahun 2012, di tahun keduanya, Susan kembali mendaftar beasiswa Tanoto Foundation, kali ini usahanya membuahkan hasil.

“Beasiswa ini bukan sekedar tentang uang. Saya ingin membanggakan kedua orang tua saya,” ungkapnya. “Saya adalah anak tertua dari empat bersaudara, kami semua perempuan, dan saya menyaksikan sekeras apa ayah saya bekerja untuk membesarkan kami dengan baik. Untuk itulah saya ingin meringankan bebannya.”

Setelah menerima beasiswa, Susan secara aktif terjun ke kelompok mahasiswa penerima beasiswa Tanoto Foundation, peran aktifnya membuatnya terpilih sebagai Sekretaris Jenderal ketika kelompok informal itu pertama kali diresmikan dengan nama Tanoto Scholars Association (TSA) Medan.

“Kami terjun untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung, membantu mereka belajar, mengajarkan mereka pentingnya menjaga kebersihan seperti mencuci tangan, meningkatkan minat mereka membaca buku serta mengajarkan bahasa inggris kepada mereka. Anak-anak ini tidak dapat mengakses pendidikan formal dengan layak, maka kami harus membantu mereka,” kata Susan.

Meeting children with Tanoto Foundation as part of the Tanoto Scholars Association

Susan bersama dengan anak sekolah di salah satu kegiatan Tanoto Scholars Association Medan

“Saya ingat betul ketika itu kami harus berkendara dengan bus, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk sampai ke tempat anak-anak tersebut. Proses mengajar pun kami lakukan di ruangan yang pengap di dekat rel kereta api, aktivitas harus berhenti sejenak setiap ada kereta yang lewat karena sangat bising,” kenangnya sambil tersenyum.

Tidak sebatas itu, kontribusi TSA Medan semakin berkembang melalui berbagai aktivitas yang lebih besar lagi seperti merenovasi perpustakaan sekolah, donasi buku dan melakukan pelatihan mandiri agar anggota TSA dapat lebih baik dalam mengajar anak-anak. “Saya bangga dengan pencapaian kami di TSA Medan,” ungkap Susan.

“Di tahun pertama, kami memenangkan penghargaan sebagai TSA dengan proyek terbaik dan proyek seni terbaik. Setelah itu kami tidak pernah menang lagi karena TSA lain semakin termotivasi untuk melampaui kami,” ujarnya sambil tertawa.

Ketika lulus kuliah, Susan tidak langsung berencana untuk bergabung dengan Grup RGE. Namun, tawaran itu justru hadir ketika ia menghadiri acara yang diadakan oleh perusahaan untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung.

“Saya hadir untuk membacakan cerita kepada anak-anak. Waktu itu saya tidak tahu kalau Pak Kelvin Tio (Direktur Manajer Asian Agri) hadir di sana dan memperhatikan saya. Ia lalu meminta kepada pihak Tanoto Foundation agar mengajak saya bergabung dengan Asian Agri,” tutur wanita kelahiran tahun 1993 tersebut.

Susan bergabung dengan Asian Agri pada tahun 2014 melalui program management trainee. Awalnya ia bekerja sebagai pemandu bagi pengunjung yang datang ke Heritage House, di mana tersimpan segala dokumen yang menunjukkan rekam jejak perusahaan dan pendirinya, Sukanto Tanoto.

Setelah empat bulan, Susan ditawari bergabung dengan departemen Corporate Communications di Jakarta.

“Di hari pertama saya masuk kantor, saya berpapasan dengan Pak Kelvin dan beliau menyapa saya. Saat itu saya terkejut bahwa beliau masih mengingat saya,” ucapnya.

Bekerja dengan tim Corporate Communications memberi Susan banyak kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai industri yang telah meningkatkan taraf perekonomian jutaan masyarakat Indonesia ini.

“Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir untuk bekerja di perusahaan yang mengelola hasil sumber daya alam. Tapi ketika saya pertama kali berkunjung ke perkebunan kelapa sawit, saya mendapatkan pengalaman yang berharga. Ketika itu saya bertemu salah satu petani kelapa sawit yang bekerja sama dengan perusahaan,” ungkapnya.

“Petani ini pindah ke Sumatera setelah membeli sebidang tanah untuk perkebunan kelapa sawit. Namun, setelah membawa serta seluruh keluarganya, ia baru tahu kalau ia ditipu. Hari-hari pertamanya di Sumatera benar-benar sulit. Akhirnya ia bekerja paruh waktu sebagai satpam hingga ia memiliki kesempatan untuk menjadi petani kelapa sawit. Hal inilah yang akhirnya mengubah hidupnya,” Susan bercerita penuh haru.

“Beliau menangis ketika menceritakan pengalaman tersebut kepada saya, hingga saya ikut menitikkan air mata,” Susan menambahkan.

Sebelumnya menjadi Social Media Specialist Asian Agri, Susan mengurus semua hal yang berkaitan dengan aktivitas dan citra perusahaan di dunia digital, kemudian ia dipindahkan ke Grup APRIL pada tahun 2019 dan bekerja sebagai Digital Specialist.

Pekerjaan yang harus ia lakukan membuatnya belajar banyak hal baru – ia harus belajar mengenai digital marketing mulai dari awal – dan juga membantunya membalas jasa mulia kedua orang tuanya selama ini.

“Salah satu pencapaian yang paling berharga dalam hidup saya adalah ketika saya dapat mengajak ibu saya liburan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Waktu itu kami pergi ke Kuala Lumpur dan selanjutnya kami akan pergi ke Thailand!,” seru Susan dengan mata berbinar.

 Bagikan  Email  Cetak