Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Bagi kebanyakan perempuan Indonesia, memilih jalan hidup sebagai seorang wanita karir bukanlah pilihan yang mudah. Terlebih lagi ketika mereka memilih bekerja di lingkungan pabrik yang mayoritasnya dihuni oleh para pria, akan banyak tantangan yang harus dihadapi setiap harinya. Namun hal tersebut tidak membuat Itsna Lathifa menyerah mengejar mimpinya. Ibu dari dua orang anak ini, kini menjabat sebagai Acting Process & Pulp Product QA Area Head di PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP).

Berbagai tantangan di dunia kerja berhasil Itsna lewati dengan baik. Salah satunya adalah ketika Itsna memulai karirnya di RAPP pada tahun 2005. Ketika pertama kali bergabung dengan RAPP, orang tua Itsna sempat kurang setuju, karena ketika itu Itsna bekerja di shift malam. Setiap pukul 23.00 WIB, Itsna selalu menelpon Ibunya agar tidak mengkhawatirkan keadaannya ketika bekerja di malam hari. Ibunda Itsna kerap kali cemas, dikarenakan yang bekerja shift malam kebanyakan laki-laki.

“Ibu saya cemas karena tidak biasa bagi seorang perempuan bekerja di malam hari. Padahal, di RAPP aman sekali dan fasilitasnya sangat lengkap”, kata Itsna.

“Ada security yang terus berjaga dan kami pun bekerja secara profesional, InsyaAllah tidak ada kejadian yang buruk. Ada kendaraan yang mengantar jemput dan pulang, di tempat kerja pun langsung bekerja. Memang tidak banyak karyawan perempuan yang bekerja di shift malam, tapi saya lakukan itu, karena itu tantangan bagi saya,” lanjut Ibu dua anak ini.

Itsna malah mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan ilmu baru ketika bekerja shift malam. Menurutnya, bekerja di malam hari membuat Itsna merasa menjadi wanita yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

“Ketika bekerja di malam hari, saya belajar banyak hal. Belajar mengenai tanggung jawab dan koordinasi akan pekerjaan kita. Terlebih lagi soal tanggung jawab, karena ketika di malam hari, jarang sekali ada atasan kita yang memantau pekerjaan kita,” ujar Itsna.

Terlebih lagi, Itsna juga memulai karirnya benar-benar dari bawah. Ketika itu ia memulai karirnya sebagai seorang teknisi di Technical Departement.

“Saya sempat merasakan bekerja di level terbawah di Techinical Departement. Dari sana saya belajar mengenai analisa reguler hingga quality control,” ujar Itsna.

Bekerja di departement tersebut memang sesuai dengan pendidikan Itsna saat kuliah jurusan Kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM). Lima bulan bekerja shift, Itsna dipindahkan ke jam kerja yang normal, masuk pagi dan pulang menjelang malam. Tak lama kemudian, dalam rangka meningkatkan kualitas karyawannya, RAPP menawarkan Itsna untuk mengikuti program pendidikan lanjutan ke jenjang magister.

Itsna pun mengikuti seleksi penerimaan beasiswa tersebut atas arahan atasannya. Namun, lagi-lagi ibunya cemas, karena anak perempuannya harus sekolah di negeri asing yang tidak ada sanak saudara di sana. Namun, ia kembali meyakinkan ibunya jika ini adalah kesempatan baginya untuk berkembang, meskipun ia adalah seorang perempuan.

“Ada banyak hal yang harus dipertimbangan ketika saya mengikuti seleksi beasiswa tersebut, mengingat saya perempuan dan akan semakin jauh dengan ibu saya. Namun ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi saya untuk berkembang bersama perusahaan ini”, jelas Itsna.

“Ayah saya pun terus membantu saya untuk meyakinkan ibu saya bahwa beasiswa ini adalah kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali,” lanjut Itsna.

Berbagai tahapan seleksi ia lewati tanpa hambatan, hingga akhirnya Itsna bersama tiga rekannya dinyatakan berhak menerima beasiswa dan berangkat ke Thailand untuk melanjutkan studi di Asian Institut of Technology di jurusan Pulp and Paper Technology. Yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata Itsna adalah satu-satunya perempuan dari empat orang yang menerima beasiswa tersebut.

“Ini merupakan momen yang membanggakan bagi saya, karena saya berhasil membuktikan ke orang tua saya, bahwa tanpa dibiayai orang tua saya, saya bisa melanjutkan studi saya ke jenjang master,” ujar Itsna.

“Saya sempat kaget ketika mengetahui bahwa dari empat orang yang berangkat ke Thailand, hanya saya saja yang perempuan. Selain itu juga ternyata sebelumnya belum ada perempuan yang berhasil meraih beasiswa ke Thailand dari perusahaan,” Itsna menjelaskan.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Thailand, ia kembali dengan membawa gelar masternya. Itsna pun tidak ragu untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan ke RAPP, agar ilmu yang ia dapatkan bisa berguna untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Sebagai seorang perempuan, momen membanggakan lainnya yang cukup berkesan bagi Itsna adalah ketika ia bisa bekerja sama langsung dengan jajaran direksi. Karena menurut Itsna, tidak banyak perempuan yang berkecimpung di bagian operational pulp and paper.

“Bagi saya, ketika bisa meeting dengan para direktur dan pendapat saya didengar oleh mereka, itu merupakan hal yang sangat membanggakan. Bahkan saking bangganya, saya pernah mengirimkan foto ketika saya meeting dengan para direktur ke Ibu saya, dan saya satu-satunya perempuan yang ada di sana,” lanjut Itsna.

Itsna juga sering diminta oleh perusahaan untuk membagi kisah inspiratifnya kepada karyawan yang baru bergabung, khususnya kepada para perempuan. Itsna selalu berpesan kepada mereka, di dunia kerja, perempuan harus bisa sejajar dengan para laki-laki.

“Secara prinsip, ketika kita bekerja sebetulnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,” ujar Itsna.

“Jadi saya tekankan kepada mereka untuk tetap berusaha, jangan membatasi diri hanya karena kita perempuan lantas kita tidak bisa. Hilangkan lah mindset seperti itu,” tutup Itsna.

 Bagikan  Email  Cetak