Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Di masa pandemi ini, madu menjadi salah satu produk yang dicari masyarakat berkat khasiatnya yang ampuh menjaga daya tahan tubuh dan segudang manfaat kesehatan lainnya.

Cairan kental manis yang dihasilkan oleh lebah ini kaya vitamin dan antioksidan yang dapat mencegah kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas. Tak heran, pengobatan berbasis madu banyak diaplikasikan untuk mengobati sejumlah penyakit, seperti batuk, masalah pencernaan hingga untuk kesehatan jantung.

Sebagai negara tropis, Indonesia kaya akan produksi madu. Salah satunya adalah Madu Sialang yang dapat ditemukan di Sumatra, utamanya di Provinsi Riau.

Yang menarik, madu ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat lokal. Pasalnya, proses pemanenan madu Sialang telah menjadi praktek budaya yang sudah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan.

Selain syarat kearifan daerah, madu sialang juga memiliki rasa yang tidak terlalu manis dengan aroma yang lebih kuat.

Sayangnya, praktek deforestasi dan pemanenan yang dilakukan secara terus-menerus oleh petani sekitar mengakibatkan keberadaan Madu Sialang menjadi barang yang langka. Padahal budidaya madu dirasa penting oleh masyarakat sebagai salah satu sumber penghasilan.

Melihat permasalahan ini, APRIL mencoba memberikan solusi terbaik kepada para petani madu Sialang, dengan mendirikan Rumah Madu Andalan, yang terletak di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu RAPP.

Didirikan sejak tahun 2000, Rumah Madu Andalan berusaha menjadi wadah bagi para petani Madu Sialang untuk menyalurkan hasil panennya, tentunya dengan harga jual yang sangat kompetitif.

Gading S, selaku Koordinator Community Development RAPP, mengatakan bahwa Rumah Madu Andalan kini telah bermitra dengan petani Madu Sialang di lima kabupaten, di antaranya Kuantan Singingi, Pelalawan, Siak dan Kampar.

Menurut Gading, memanen madu Sialang bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses pemanenan madu in harus dilakukan di malam hari. Hal ini dilakukan agar lebah-lebah yang tinggal di pohon Sialang, tidak terganggu dan pergi meninggalkan pohon tersebut.

“Selain itu juga, diperlukan asap untuk memutus komunikasi di antara lebah satu dengan yang lainnya. Jadi mereka tidak akan menyerang petani yang sedang mengambil madu di atas Pohon Sialang tersebut,” ucap Gading.

“Dengan adanya Rumah Madu Andalan, para petani madu bisa langsung menjual hasil panennya ke kami, tanpa harus kebingungan mencari pelanggan,” lanjutnya.

Setelah menerima madu dari para petani, Rumah Batik Andalan mengolah madu tersebut dengan mengurangi kadar airnya, kemudian dikemas secara menarik dan diberi nama “Foresbi”.

Kemudian RAPP bertaunggung jawab untuk menjual dan memasarkan madu Foresbi. Madu tersebut dapat dijumpai di toko-toko yang berada di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu RAPP, Hotel Unigraha, Koperasi Karyawan RAPP.

Selain itu, di Rumah Madu Andalan, RAPP juga mengedukasi dan melatih para petani madu dalam proses pemanenan, agar kedepannya Madu Sialang tetap terjaga keletasriannya dan para petani tersebut terus bisa merasakan manfaat dari madu tersebut.

Melalui cara ini, Rumah Madu Andalan tidak hanya berkontribusi melestarikan budaya lokal, akan tetapi juga memberikan informasi kepada para petani madu Sialang tentang bagaimana mempertahankan pasokan madu Sialang yang mereka produksi.

Gading menekankan bahwa Rumah Madu Andalan turut berpartispasi secara langsung setiap kali proses pemanenan madu Sialang.

“Jadi kami dapat menjamin bahwa madu yang diproduksi oleh Rumah Madu Andalan adalah madu Sialang yang asli,” ujar Gading.

Setidaknya dalam satu bulan, Rumah Madu Andalan mampu mengolah madu sebanyak 150-200 kg yang berasal dari petani, dengan omset sekitar 14 juta setiap bulannya.

Hambatan terbesar dalam menjalankan Rumah Madu Andalan ini adalah suplai madu yang terkadang datangnya tidak menentu. Untuk mengatasi masalah ini, Rumah Madu Andalan menjadwalkan pasokan madu dari tiap kabupaten.

“Semisal bulan ini kami menerima pasokan dari Kabupaten Kampar, bulan depan kami hanya akan menerima suplai dari kabupaten lainnya. Hal ini dilakukan agar sarang Madu Sialang yang ada di Kabupaten Kampar tidak habis dan bisa terus beregenerasi,” ujar Gading.

Kedepannya Gading berharap akan ada rumah produksi dan pengolahan madu yang langsung dikerjakan oleh para petani madu.

“Dengan begitu mereka akan lebih mandiri dalam memproduksi Madu Sialang. Tidak seperti sekarang, yang semuanya serba terbatas,” lanjutnya.

Artikel Lainnya

Grup APRIL Membantu Ni’mah Merubah Hidup...
Grup APRIL Membantu Ni’mah Merubah Hidup... Pernahkah kalian membayangkan tinggal di sebuah gubuk yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit, tak ada aliran listrik maupun saluran air bersih, dan semua...
Mengejar Mimpi dengan Beasiswa PT RAPP
Mengejar Mimpi dengan Beasiswa PT RAPP Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia. Pendidikan yang baik dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan kesejahteraan seseor...
Cara APRIL Mendukung Tim Indonesia dalam...
Cara APRIL Mendukung Tim Indonesia dalam... Semarak perhelatan pentas olahraga terbesar se-Asia tahun 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang, Indonesia, tengah menjadi topik yang hangat untuk ...
 Bagikan  Email  Cetak