Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Pada tahun 2015, sebanyak 193 negara anggota PBB, secara bersama-sama mengadopsi sebuah Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang ditargetkan akan tercapai di tahun 2030, yang tergabung dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Terdapat berbagai masalah pembangunan sosial dan ekonomi yang dibahas di dalam SGD, seperti kemiskinan, kelaparan, pendidikan, energi, dan lingkungan. SDG berusaha meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan inklusif secara global, dengan mengutamakan pemerataan, agar tidak ada lagi penduduk dunia yang tertinggal.

“Sebelum SGD ini dirilis, banyak sekali perusahaan yang berkomitmen untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan, contohnya seperti komitmen untuk tidak melakukan penebangan hutan secara liar, atau dengan menerapkan kebijakan pengelolaan hutan lestari, seperti yang kami lakukan di area operasi kami," kata Lucita Jasmin, Director of Sustainability and External Affairs Grup APRIL.

"Secara global, kami berusaha untuk menjalankan segala jenis bisnis dengan mengutamakan kemauan, sumber daya, dan rasio bisnis, ini merupakan bentuk partisipasi dan dukungan nyata kami terhadap pembangunan berkelanjutan," katanya.

Selain itu, komitmen semacam ini juga dianggap berharga dan dijalankan dengan penuh ambisi, “karena mereka sudah cukup mandiri di dalam sektor maupun area geografis”, kata Lucita.

“Yang menjadi capaian terbesar SDG adalah menjadi wadah yang mendukung semua kemajuan yang tengah diusahakan bersama, hal ini tentunya saling berkaitan satu sama lain,” lanjutnya.

SDG memungkinkan perusahaan seperti Grup APRIL untuk mengidentifikasi tujuan spesifik sebagai titik awal sebelum menjelajahi keterkaitan dengan tujuan yang lainnya, kata Lucita.

"Poin SDG yang ke 15, mengenai 'Life on Land', mempromosikan tentang perlindungan dan pemulihan kawasan hutan, yang sejalan dengan komitmen konservasi dan kehutanan yang berkelanjutan. Sementara itu, beberapa tujuan lainnya juga masih memiliki keterkaitan, karena setiap tujuan memiliki ketergantungan dan dampak pada enam belas tujuan lainnya.

"Misalnya, terdapat sebuah fakta yang menyatakan bahwa hutan menyimpan 46% karbon terrestrial. Fakta tersebut memiliki keterkaitan pada poin SDG ke 15 tentang perlindungan hutan dan poin SDG ke 13 tentang Aksi Iklim. Di saat yang bersamaan, salah satu penyebab deforestasi juga didorong oleh tekanan sosio-ekonomi, sehingga poin SDG ke 1, tentang pengentasan kemiskinan - juga mengambil peran yang penting" katanya.

Kemitraan

Lucita mengatakan, dalam mencapai semua tujuan ini, tentunya tidak dapat dilakukan oleh perusahaan sendirian.

“Tentunya dibutuhkan berbagai macam kemitraan dan kolaborasi di antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat luas, dengan begitu peluang kita untuk mencapai tujuan tersebut menjadi lebih besar,” lanjut Lucita.

Tantangannya adalah, bagaimana caranya memprioritaskan sistem kemitraan transformasional ini, agar dampaknya bisa berjangka panjang, dengan skala ambisius dan juga bisa dilakukan dengan cepat, Lucita menambahkan.

Grup APRIL memiliki banyak program dan proyek yang bermitra dengan para pemangku kepentingan. Hal ini tentunya menjadi bagian penting dari perwujudan poin SDG ke 17 tentang Kemitraan untuk Tujuan.

Salah satu contohnya adalah proyek Riau Ecosystem Restoration (RER), yang didirikan oleh APRIL pada tahun 2013, yang bertujuan untuk melindungi dan memulihkan hutan gambut secara ekologis, di Semenanjung Kampar, Propinsi Riau.

 

Melalui proyek RER ini, Grup APRIL mengonservasi sekitar 150.000 hektar lahan gambut, dengan nilai investasi sebesar USD 100 juta. Tentunya usaha restorasi dan konservasi ini merupakan bentuk investasi jangka panjang, sekaligus bentuk kontribusi dan dukungan pada poin SDG ke 13 dan 15.

Pada saat bersamaan, Grup APRIL dan RER juga bermitra dengan organisasi konservasi internasional Fauna & Flora International (FFI), The Nature Conservancy (TNC) dan organisasi non pemerintah Indonesia BIDARA.

Masyarakat

Kunci keberhasilan dari sebuah bisnis adalah, membina hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat setempat. Jauh sebelum program SDG diluncurkan, Grup APRIL telah berusaha memprioritaskan pemerataan pembangunan di masyarakat lokal.

Dengan adanya target global yang jelas, SDGs memudahkan pelaksanaan proyek-proyek ini, di mana masyarakat dan semua pemangku kepentingan, beroperasi dalam kerangka kerja bersama.

Grup APRIL mengembangkan Program Desa Bebas API (FFVP) - sebuah program yang berinisiatif melakukan pencegahan kebakaran, yang berbasis komunitas - bermitra dengan desa-desa di dalam wilayah operasinya.

Melalui program ini, Grup APRIL berusaha agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak buruk yang mempengaruhi perekonomian dan kesehatan yang berasal dari kebakaran. Selain itu, Grup APRIL juga memberikan imbalan bagi masyarakat yang bisa menjaga desanya agar terbebas dari kebakaran atau zero burn. Imbalan tersebut berupa dana yang bisa digunakan untuk kepentingan bersama, seperti pembangunan infrastruktur desa.

Tak lama berselang, Grup APRIL pun mempelopori berdirinya Fire-Free Alliance (FFA), sebuah wadah bagi para pemangku kepentingan, yang berusaha menyelesaikan masalah kebakaran dan kabut asap, yang diakibatkan oleh kebakaran lahan. Melalui FFA, APRIL juga mengajak beberapa perusahaan lain seperti Asian Agri, IDH, Musim Mas, P.M.Haze, Wilmar, Sime Darby dan IOI Group, untuk bergabung dan bekerja sama.

APRIL juga terus melanjutkan komitmennya kepada masyarakat lokal melalui berbagai macam program Community Development, yang mendukung terwujudnya poin SDG ke 1, yaitu mengenai Pengentasan Kemiskinan dan poin SDG ke 10, tentang Berkurangnya Kesenjangan.

Program-program tersebut berusaha mengentaskan kemiskinan di wilayah pedesaan di Indonesia, sekaligus menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Tim Community Development APRIL secara rutin memberikan kesempatan ke masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya mengenai apa saja bantuan yang dibutuhkan di wilayah mereka.

APRIL juga telah bekerja sama dengan para petani sejak tahun 1999 melalui program Integrated Farming System (IFS), yang memungkinkan petani mencapai diversifikasi, efisiensi dan hasil yang lebih besar melalui dukungan teknis dan pertanian yang berkelanjutan.

Tepatnya di tahun 2016, melalui program, IFS tersebut, sebanyak 248 petani dilatih oleh APRIL untuk bercocok tanam agar mendapatkan hasil yang maksimal. Program IFS ini juga memberikan bantuan bahan-bahan pertanian kepada 44 kelompok tani lainnya.

Selain itu, APRIL juga memiliki proyek lainnya termasuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan tempat ibadah, di desa yang berada dekat dengan area wilayah operasi APRIL.

 Bagikan  Email  Cetak