Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Sebuah perusahaan tidak akan bisa beroperasi dengan baik apabila tidak melibatkan masyarakat yang ada di sekitarnya, karena secara tidak langsung, masyarakat tersebut telah menjadi bagian dari perusahaan itu sendiri. Namun dalam proses menjalin relasi dengan masyarakat tersebut tidaklah mudah. Lalu bagaimanakah caranya agar bisa merangkul masyarakat tersebut dengan tidak hanya mengajak mereka dalam sebuah program kemitraan saja, tapi juga mengubah mereka agar tidak lagi menggunakan pola pikir yang konvensional?

Hal inilah yang menjadi tantangan bagi APRIL ketika pertama kali mendesain sebuah program bernama Fire Free Village Program (FFVP)-atau yang lebih dikenal dengan Program Desa Bebas Api-yang kini telah sukses dan terlihat manfaatnya bagi masyarakat.

“FFVP merupakan sebuah program yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran dengan cara pendekatan kepada masyarakat,” ujar Craig Tribolet, Strategic Fire Management Manager APRIL Group.

Hingga kini, FFVP telah merangkul sebanyak 77 desa di sekitar kawasan konsesi APRIL dan telah mengedukasi mereka agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dikhawatirkan akan terjadi bencana kabut asap seperti pada tahun 2015 lalu.

Program ini dimulai berbarengan ketika APRIL meneliti sembilan desa yang memiliki risiko kebakaran tinggi, yang bersebelahan dengan lahan konsesi milik perusahaan. Selanjutnya, program ini berusaha melibatkan masyarakat sekitar untuk berdiskusi seputar pencegahan kebakaran.

Meskipun pemerintah menilai bencana di tahun 2015 tersebut kebakaran terburuk dalam sejarah, namun faktanya setelah kejadian tersebut, desa-desa yang telah bergabung dengan FFVP mampu mengurangi rata-rata pembakaran lahan mereka sebesar 90 persen.

Sejak saat itu, FFVP terus berkembang pesat dan melahirkan Fire Free Alliance (FFA), yang dipelopori oleh APRIL pada tahun 2016. FFA merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai perusahaan yang memiliki fokus pada pengelolaan resiko kebakaran.

"APRIL menyadari sejak awal bahwa kami tidak begitu ahli dalam hal proses pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

"Kami melakukan analisis risiko – dan kemudian memetakannya - dan kami mulai mengerti bahwa lahan konsesi milik APRIL tidak terbakar. Kami tidak pernah menggunakan cara membakar lahan sebagai bagian dari proses pengelolaan hutan kami, karena kami memiliki pengetahuan untuk tidak melakukan pembakaran," Craig menjelaskan.

"Jadi kami tahu bahwa kami bukanlah tokoh utama dalam cerita ini, tapi seringkali daerah kami yang terbakar," katanya.

Sebagai bagian dari analisis itu, segera menjadi jelas bahwa masalahnya sebagian besar disebabkan oleh kebakaran yang dimulai di tempat lain namun dengan cepat menyebar selama kondisi musim panas yang kering.

Hasil dari analisis tersebut menjelaskan bahwa, sebagian besar masalah kebakaran tersebut disebabkan oleh api yang berasal dari lahan perkebunan lain. Ditambah lagi dengan musim kemarau yang tengah melanda Indonesia kala itu, semakin mempercepat penyebaran api ke lahan perkebunan milik APRIL.

"Hal ini kerap kali dilakukan oleh petani skala kecil untuk membuka lahan mereka, tanpa memikirkan alternatif lain.

"Yang kami temukan dari hasil analisis kami sebenarnya adalah, pelaku utama dalam kebakaran ini adalah masyarakat itu sendiri, dan karena itulah kami menyusun strategi pencegahan kebakaran dengan cara melibatkan masyarakat," kata Craig.

Pemahaman Umum

Bagi tim FFVP, hambatan terbesar dalam mengatasi masalah ini adalah kurangnya pemahaman mendasar masyarakat tentang dampak buruk yang diakibatkan pembakaran.

"Kita sering mendengar keluhan memburuknya perekonomian masyarakat yang diakibatkan oleh kebakaran besar tersebut. Sayangnya, ada hal lain yang kerap kali terlupakan, yaitu dampak buruk kabut asap yang mengganggu kesehatan orang-orang di wilayah tersebut, terutama kesehatan anak-anak,"kata Craig.

Akan tetapi, yang terpenting adalah tim FFVP tidak menunjuk masyarakat sekitar sebagai biang keladi dari segala permasalahan ini.

"Kami tidak mau bekerja di lingkungan yang saling menyalahkan satu sama lain, karena begitu anda mulai menyalahkan orang lain, akan menyebabkan polarisasi, dan itu sama saja seperti anda membuat lingkungan kerja anda menjadi tempat yang sangat sangat tidak nyaman,” kata Craig.

"Jadi, kami memilih untuk tidak melakukan seperti pendekatan itu. Kami lebih memilih merangkul mereka dengan cara yang lebih lembut, menunjukkan kepada mereka bahwa kebakaran yang mereka lakukan berdampak pada meningkatnya kabut asap, yang tentunya akan membahayakan anak-anak mereka," Craig menjelaskan.

Craig mengatakan, “sebagian dari masyarakat desa merasa sedikit tercerahkan”. Karena awalnya mereka berpikir bahwa kabut asap yang muncul bukan berasal dari api yang mereka buat. Mereka malah berpikir bahwa bencana kabut asap tersebut berasal dari api kebakaran yang dibuat orang lain.

“Kami menunjukan kepada mereka bahwa faktanya bukan seperti yang mereka pikirkan. Faktanya adalah terdapat ratusan titik api, yang salah satunya berkontribusi besar terhadap permasalahan nasional ini. Dan permasalahan ini bisa saja mengancam nyawa anak, cucu, dan saudara-saudara mereka.

"Saat itulah kita benar-benar mendapat kepercayaan dari masyarajat, karena kita bisa memberikan penjelasan yang logis kepada mereka mengenai dampak buruk dari pembakaran lahan.

"Selain itu kami juga memberikan solusi yang jelas kepada mereka, untuk tidak lagi melakukan praktik pembakaran lahan," kata Craig.

Merangkul Masyarakat

Tentunya, semua yang APRIL lakukan memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman ke masyarakat tentang dampak buruk yang akan terus meluas, jika mereka terus melakukan praktik pembakaran ini secara kolektif.

“Akibatnya, proses pendekatan di awal yang kami lakukan dengan masyarakat sangat lamban. Kami membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, untuk membantu mereka memahami aspek-aspek yang lebih luas mengenai masalah pembakaran ini, dan untuk mengajak mereka bersama mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini," lanjutnya.

Menurut Craig, Manajer Pencegahan Kebakaran FFVP telah berusaha semaksimal mungkin untuk menarik simpati masyarakat desa.

“Butuh proses yang cukup panjang – kami harus duduk sambil minum teh bersama dan membahas masalah ini dengan masyarakat dengan kepala dingin. Kami tidak ingin terlalu keras dan ngotot," katanya.

Craig juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menangani masalah ini. Dan itu sudah harus dilakukan sejak awal.

"Jika anda tidak merangkul masyarakat sejak awal untuk duduk bersama membahas masalah ini, jangan berharap mereka akan mau mengikuti solusi yang telah anda rumuskan,” ujar Craig.

"Untuk merumuskan masalah ini, dibutuhkan partisipasi masyarakat semenjak awal, agar mereka mau peduli dan memberikan dukungan terhadap solusi yang kami hasilkan," katanya.

"Kami selalu menekankan ke setiap orang untuk tidak berharap bisa dengan mudah memberikan solusi kepada masyarakat secara tiba-tiba. Pelan-pelan, kami harus meyakinkan mereka bahwa terdapat masalah yang harus diselesaikan. Karena jika masyarakat tidak percaya mereka punya masalah, maka kecil mereka akan berpikir kalau mereka tidak membutuhkan solusi apa apa,” lanjut Craig.

"Tentunya cara tersebut tidak akan berhasil," Craig menegaskan.

Berikan Kesempatan Untuk Warga Lokal Berbicara

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi APRIL ketika merangkul masyarakat adalah permasalahan Bahasa daerah yang digunakan di sana.

“Hal ini lah yang menyebabkan kami memiliki program utama untuk merekrut crew leader yang berasal dari masing-masing desa,” ujar Craig.

“Ketika seorang crew leader merupakan warga asli desa tersebut, ia akan mengerti secara umum mengenai orang-orang di desanya, karena ia tinggal di sana bersama keluarganya, sehingga masyarakat pasti paham bahwa ia sangat peduli dengan apa yang terjadi di desanya.

“Dan tentunya dia mahir berbicara bahasa daerah tersebut dengan aksen lokal yg kuat,” ujar Craig.

Menurut Craig, dengan mempekerjakan masyarakat local akan mempermudah APRIL untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Cara ini dianggap ampuh untuk merubah pola pikir masyarakat tentang praktik pembakaran lahan.

"Jadi kami tidak datang sebagai orang asing yang berasal dari luar desa. Kami mencoba menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Dan kemudian mencoba untuk berbicara dengan para warga, dengan menggunakan logat dan bahasa asli daerah tersebut, dan memahami beberapa masalah lokal yang dihadapi," tambahnya.

Tidak Hanya Meniru dan Menerapkan Program

Namun Craig mengingatkan agar dalam menjalankan program ini, semua pihak tidak hanya meniru dan menerapkan solusi yang telah dijalankan oleh APRIL ke berbagai macam konteks. Karena setiap permasalahan memiliki konteksnya masing-masing, dan cara penerapannya bukan seperti itu.

Menurut Craig, FFVP pada dasarnya adalah sebuah formula utama dalam menangani masalah kebakaran lahan. Jadi bukan berarti formula ini bisa langsung ditiru dan diterapkan begitu saja, harus disesuaikan dengan konteks permasalahan.

"Jadi ketika kita bermitra dengan industri besar lainnya, khususnya perusahaan yang memiliki komoditas besar di Indonesia melalui FFA, kita dapat memastikan, bahwa mereka tidak hanya meniru dan menerapkan solusi untuk masalah kebakaran ini, karena mungkin saja tidak sesuai dengan konteks permasalahannya".

Dari sudut pandang organisasi, setiap perusahaan beroperasi di lahan yang berbeda-beda (contohnya seperti lahan gambut versus lahan mineral; daerah berkembang versus daerah terbelakang) dengan anggaran yang berbeda, dan dengan kebutuhan strategis yang berbeda-beda dari masing-masing manajemen.

Banyak uang telah dikucurkan untuk menanggulangi masalah kebakaran di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, namun sayangnya negara ini masih saja mengalami bencana kebakaran lahan, seperti yang terjadi pada tahun 2015, kata Craig.

"Hingga kini, proyek-proyek tersebut memiliki tujuan dan solusi yang tepat, seringkali juga perumusan masalah tersebut terjadi di eksternal perusahaan. Proyek-proyek tersebut juga dilengkapi dengan berbagai macam solusi yang telah diformulasikan dengan baik.

"Masyarakat hanya memiliki sedikit andil dalam proses perumusan solusi untuk mengatasi masalah ini. Bahkan terkadang mereka tidak memberikan suaranya sama sekali. Padahal kami berharap mereka melakukan perubahan dalam praktik yang mereka lakukan selama ini. Alhasil susah bagi mereka untuk tertarik," Craig menjelaskan.

Oleh karena itu, Craig menggarisbawahi pentingnya memberi waktu kepada masyarakat untuk memahami permasalahan utama, memahami tentang bagaimana dampak buruk yang disebabkan oleh pembakaran lahan. Lambat laun mereka akan mengerti dengan sendirinya, tentunya hal ini akan membuat masyarakat lebih peduli untuk mencari solusi dalam permasalahan ini.

"Kami melihat peran APRIL dalam merangkul masyarakat untuk mencari solusi. APRIL tidak mengambil langkah sendirian untuk mencari solusi dan menyelesaikan masalah,” kata Craig.

"Saran kami kepada perusahaan lain adalah agar mereka tiba-tiba datang ke masyarakat dengan solusi yang sudah jadi. Akan lebih baik jika anda datang dengan pikiran terbuka untuk membahas permasalahan tersebut dengan masyarakat," katanya.

Dalam hal ini, Craig merujuk kepada formula yang ada di FFA, yang menurutnya memungkinkan setiap perusahaan untuk menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

"Apa yang sebenarnya kami kerjakan selama ini adalah menyusun sebuah pakem atau formula – yang menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah untuk mengembangkan solusi yang anda buat. Contohnya seperti menjadikan masyarakat sebagai pemangku kepentingan, mungkin benar-benar tepat terhadap masalah yang dihadapi perusahaan Anda atau perusahaan Anda," katanya.

Craig menekankan kebutuhan yang signifikan yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menganalisis penyebab risiko.

"Kami memulai 5 proyek yang berada di bawah naungan FFVP. Proyek tersebut merupakan hasil analisis risiko dan kerja sama kami dengan masyarakat, yang kemudian kami putuskan sebagai cara paling efektif untuk berkomunikasi dan merangkul masyarakat. Dengan tujuan agar bisa mengubah pola pikir dan perilaku mereka untuk jangka panjang.

"Namun, cara ini spesifik khusus untuk sembilan desa yang menjadi daerah operasional tempat kami bekerja," kata Craig.

Craig menambahkan, "tidak setiap perusahaan memiliki sumber daya yang sama, lingkungan yang sama seperti kita, dan masyarakat yang sama juga. Setiap wilayah pasti memiliki perbedaannya masing-masing,” kata Craig.

Namun dalam banyak kasus, tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan-perusahaan lain bisa saja menggunakan solusi yang telah APRIL buat.

"Oke-oke saja dan bukan sebuah masalah, karena setidaknya mereka telah melalui proses dan menghasilkan solusi sendiri ketika berkoordinasi dengan masyarakat," katanya.

 Bagikan  Email  Cetak