Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Musibah kebakaran yang menimpa Helmi pada tahun 2008 silam, telah mengajarkannya banyak hal. Kebakaran tersebut diakibatkan oleh ulah Helmi yang membuka lahan dengan cara membakar. Helmi pun dituntut untuk mengganti rugi sebesar Rp 20 juta oleh tetangganya, yang lahan perkebunannya ikut terbakar.

“Saya dituntut ganti rugi, dan setelah membayar ganti rugi itu, saya tidak pernah lagi membakar lahan lagi, saya kapok. Gara-gara itu, saya dan istri harus menjual emas untuk biaya ganti rugi,” kata Helmi sambal ia menceritakan tentang masa lalunya.

Helmi merupakan masyarakat Desa Kuala Tolam, Riau, Indonesia. Dahulu, ia adalah satu dari sekian banyak orang yang menerapkan praktik pembebasan lahan dengan cara membakar. Belajar dari pengalaman buruknya tersebut, Helmi pun memutuskan untuk tidak lagi membakar lahan.

Kabar baik datang ketika Desa Kuala Tolam masuk dalam program Desa Bebas Api atau Free Fire Village Program (FFVP), yang dicanangkan oleh Grup APRIL. Helmi pun berniat bergabung dengan tim FFVP untuk mengedukasi masyarakat di desanya untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Kini Helmi telah terpilih menjadi crew leader di tim FFVP, yang bertugas menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di desa Kuala Tolam. Tugas utama Helmi adalah mengedukasi masyarakat akan bahaya pembebasan lahan dengan cara membakar. Selain itu ia juga melakukan sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran lahan di desanya.

“Semenjak saat itu saya dipercaya oleh APRIL untuk menjadi crew leader di desa Kuala Tolam,” ujar Helmi.

Setiap harinya Helmi bersama Babinsa (aparat desa) harus berjalan kaki untuk melakukan sosialisasi. Ia bahkan rela keliling kampung guna mendatangi rumah-rumah warga. Terkadang juga mereka melakukan patroli menyebrangi Sungai Kampar dengan menggunakan boat, untuk memastikan tidak ada kebakaran yang terjadi di sekitar desa Kuala Tolam.

“Ya saya ceritakan saja pengalaman ke masyarakat, pokoknya janganlah membakar lahan lagi. Dulu saya membakar lahan dan sekarang malah dapat amanah untuk mencegah,” ujar Helmi bersyukur.

Awalnya, tidak mudah bagi Helmi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang crew leader. Banyak dari masyarakat sekitar yang tetap bersikeras untuk membebaskan lahan dengan cara membakar. Namun lambat laun, masyarakat pun mulai mengerti tentang dampak buruk dari pembebasan lahan dengan cara membakar.

“Saya sempat ditolak oleh masyarakat setempat. Mereka bilang saya munafik, karena saya dulu juga melakukan hal yang sama. Tapi alhamdulillah, kini warga mulai mengerti jika membuka lahan dengan cara bakar itu salah dan banyak ruginya,” ungkapnya.

Berkat kinerja Helmi dan tim FFVP desa Kuala Tolam, kini desa tersebut telah terbebas dari kebakaran lahan. Desa Kuala Tolam pun berhasil meraih penghargaan dari Program Desa Bebas Api, dan berhak mendapatkan bantuan dana non tunai sebesar Rp 50 Juta. Sesuai kesepakatan masyarakat dana tersebut digunakan untuk fasilitas publik, seperti membangun Pasar Kuala Tolam.

“Alhamdulillah tahun lalu kami mendapatkan penghargaan karena berhasil menjaga desa kami terbebas dari api. Dan pada tahun 2017 ini, belum ada satupun kebakaran yang terjadi, bahkan untuk titik api pun tidak ada,” Helmi menjelaskan.

Menurut Helmi, Program Desa Bebas Api ini juga memberikan banyak manfaat positif bagi desa Kuala Tolam. Tak hanya memberikan bantuan dana, Program Desa Bebas Api ini juga bermanfaat untuk kesehatan masyarakat Desa Kuala Tolam.

“Kalau kebakaran bisa dicegah, tak hanya reward yang kita dapatkan, tapi juga bisa bermanfaat untuk kesehatan, karena tidak ada lagi asap yang akan mengganggu pernapasan kami,” ujar Helmi. “Semoga dengan ditambahnya dengan adanya peraturan dari pemerintah, masyarakat semakin tidak berani membakar,” kata ayah dari dua anak tersebut.

 
 Bagikan  Email  Cetak