Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Tahun 2017 merupakan tahun kesuksesan bagi tim Siaga Kebakaran APRIL. Mereka berhasil melalui musim kemarau tanpa insiden besar di sekitar area operasi perusahaan dan secara signifikan mampu mengurangi kebakaran di desa sekitar yang terlibat dalam Program Desa Bebas Api (FFVP).

Namun pencegahan kebakaran –dan asap yang berdampak hingga ke kawasan Asia Tenggara pada tahun 2015- merupakan sebuah usaha berkelanjutan dan rasa berpuas diri tidak boleh berlebihan.

Inilah yang ada dalam benak tim Siaga Kebakaran saat menjalani latihan keras selama masa musim hujan. Tidak lain untuk membuat mereka lebih siap saat musim kemarau tiba.

Tim Siaga Kebakaran berjumlah 1.125 yang terdiri dari tim inti dan tim tambahan. Mereka mendapatkan pelatihan selama dua minggu dalam setahun termasuk simulasi praktik kebakaran dan teori. Bahkan, tim juga dilatih oleh pasukan khusus dari TNI Angkatan Udara, untuk mempelajari teknik bertahan hidup dan teknik menavigasi di lingkungan hutan.

Osserman, Asisten Kepala Forest Protection Estate Pelalawan, mengatakan bahwa tugas utama tim Siaga Kebakaran adalah mencegah terjadinya kebakaran, sebelum menyebar luas ke lahan-lahan yang ada di sekitarnya.

"Langkah pertama yang kami lakukan dalam mengatasi kebakaran adalah untuk menganalisa area mana yang memiliki potensi kebakaran yang tinggi," kata Osserman.

"Selanjutnya, kami akan membuat skala prioritas, dan mengkategorikan area mana yang paling berisiko. Di daerah terpencil kami juga mendirikan pos jaga atau tenda yang dapat digunakan sebagai pangkalan ketika berpatroli."

APRIL telah menginvestasikan lebih dari US$ 6 juta untuk melengkapi tim Siaga Kebakaran, dan menghabiskan US$ 2 juta setiap tahunnya untuk biaya operasional. Selain itu, sejumlah personil dalam tim yang cukup besar juga dilengkapi dengan peralatan seperti pompa air sebanyak 183 buah, 1150 selang air, beberapa buah kapal, helikopter, dan kendaraan roda empat.

Tim Siaga Kebakaran juga menggunakan teknologi modern seperti drone dan satelit untuk memantau titik panas – area dengan titik temperature tinggi- yang berpotensi menjadi kebakaran.

 Bagikan  Email  Cetak