Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Siapa sangka, media sosial bernama Facebook, telah mengantarkan Juanda, seorang pria asal Sungai Apit, Kabupaten Siak, Indonesia, menjadi seorang peternak Madu Kelulut yang sukses.

Cerita ini bermula pada pertengahan tahun 2014, ketika Juanda diminta untuk mengirimkan beberapa Lebah Kelulut (Meliponini) ke salah seorang temannya yang berada di Pulau Jawa. Kabupaten Siak memang terkenal sebagai penghasil berbagai jenis lebah madu.

“Setelah beberapa kali saya kirim ke teman saya, di tahun yang sama, saya coba untuk memelihara lebah tersebut,” ujar Juanda.

“Padahal saya tidak memiliki pengetahuan sama sekali mengenai cara budidaya lebah tersebut, tapi karena saya butuh uang dan ingin meningkatkan perekonomian keluarga saya, jadi saya coba saja” ujar Juanda.

Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Juanda hanya mengandalkan penghasilan dari perkebunan kelapa sawit warisan orang tuanya, yang luasnya hanya 1 hektar saja. Maka dari itu ia berusaha mencari penghasilan lain.

Juanda pun mencari informasi tentang bagaimana cara budidaya Madu Kelulut tersebut dari berbagai sumber di internet. Hingga akhirnya ia menemukan salah seorang pengguna Facebook yang sudah berhasil membudidayakan Madu Kelulut dan membagikan informasinya di media sosial tersebut.

Madu kelulut
Juanda sukses mengembangkan madu kelulut di Riau

"Pengetahuan ini saya peroleh dari teman yang saya kenal di media sosial, ia berasal dari Malaysia. Kami sering berdiskusi di halaman facebooknya, ini membuat saya jadi paham apa saja keuntungan dan manfaat madu kelulut," kata Juanda

Dari pembicarannya itu Juanda mulai mencoba berternak lebah madu kelulut dengan menyediakan topeng atau medium untuk lebah tersebut bersarang.

Namun sayangnya, informasi yang didapatnya dari Facebook tidak begitu detail, sehingga Juanda gagal saat pertama kali membudidayakan lebah tersebut.

“Saya menyiapkan sebanyak 200 topeng. Akan tetapi banyak yang gagal. Sarangnya kosong, tidak ada kelulut di dalamnya," kata Juanda sambil menceritakan kisah gagalnya dulu.

Namun Juanda tidak menyerah sampai disini saja, meskipun banyak kendala yang dihadapi saat itu. Salah satunya adalah sulitnya mencari sarang kelulut. Ia bahkan terpaksa harus mencari kehutan sendirian.

“Setelah saya mendapatkan sarang kelulut, kemudian saya bawa pulang dan saya potong-potong menjadi beberapa bagian. Setelah itu, sarang tersebut dirakit menjadi media ternak bagi kelulut,” jelasnya.

Perjuangannya dalam mengembangkan produksi madu kelulut mencuri perhatian Syamsuar selaku Bupati Siak. Melalui kunjungan yang Syamsuar lakukan ke peternakan madu milik Juanda, Syamsuar mengajaknya untuk bekerjasama dan menjadi mitra binaan PT RAPP dalam mengembangkan produksi Madu Kelulut.

Melalui program Community Development, PT RAPP berkomitmen untuk membantu meningkatkan kesejahteraan warga yang berada di sekitar area operasi perusahaan, dengan memberikan pelatihan dan membina kepada Juanda untuk mengembangkan usaha Madu Kelulutnya.

Juanda mengaku, minimnya pengetahuan dalam pengembangan ternak kelulut menjadi salah satu kendala baginya. Karena, sebelumnya sumber informasi yang ia miliki hanyalah akun media temannya yang berada di Malaysia.

Salah satu cara perusahaan untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah dengan menyediakan kegiatan studi banding dan pelatihan untuk Juanda selama 5 hari di Selangor, Malaysia.

Juanda pun kemudian diberi kesempatan untuk memilih daerah yang ingin ia kunjungi bersama dua peternak kelulut lainnya yang menjadi mitra PT RAPP. Selangor terpilih sebagai tujuan menuntut ilmu dikarenakan daerah tersebut adalah daerah terbaik untuk beternak kelulut.

“Di Selangor, mereka memiliki komunitas ternak madu kelulut dan kemudian mengelola hasil dari madu kelulut tersebut dalam bentuk herbal, minuman, serta produk lainnya. Kemudian produk tersebut dikemas dengan baik dan menjadi produk lokal yang dapat dibawa pulang sebagai buah tangan oleh pengunjung disana.” jelas Syamsuar.

Staff Community Development (CD) RAPP Mahmud Hasyim mengatakan, dukungan ini merupakan kepedulian dari perusahaan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bukti komitmen perusahaan dalam upaya mengedukasi para peternak untuk meningkatkan kemampuan mereka. Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat menambah pengalaman peternak lebah kelulut dan mengembangkan UKM yang ada di daerah-daerah lain.

“Adanya studi banding ini diharapkan bisa memperkaya ilmu, yang bisa dibagikan ke orang lain," tuturnya,” lanjutnya.

Menurut Mahmud, madu dari para peternak ini bisa dihargai hingga Rp 500 ribu per liter. Madu Kelulut biasanya sudah bisa dipanen ketika berumur 2 bulan. Dalam sekali panen, biasanya bisa menghasilkan sekitar 30 kg Madu Kelulut.

Kini, Juanda menjadikan Madu Kelulut sebagai mata pencaharian utamanya. Menurut Juanda, penghasilannya sebagai seorang petani Madu Kelulut jauh lebih tinggi dibandingkan profesinya dahulu sebagai petani kelapa sawit.

Madu Kelulut yang ia kelola bersama adiknya kini bahkan telah didistribusikan ke Surabaya dan Tangerang. Ia berharap dengan bermitra dengan, akan mampu meningkatkan usaha Madu Kelulut. Sehingga kedepannya dapat menjadi sumber mata pencaharian yang menguntungkan untuk warga sekitar.

 

 

 Bagikan  Email  Cetak