Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Pernahkah Anda membayangkan memiliki keluarga yang sangat besar? Hal inilah yang dirasakan Sarmin. Sarmin memiliki 9 orang “anak” yang ia rawat dengan baik. Uniknya beberapa dari anak tersebut memiliki berat hingga 4 ton.

Keunikan ini dirasakan Sarmin semenjak ia bergabung dengan Elephant Flying Squad (EFS) Grup APRIL sebagai seorang mahot atau pawang gajah. Setiap harinya, Sarmin bekerja untuk mengasuh dan merawat 6 ekor gajah yang ada di Camp Estate Ukui, Provinsi Riau. Selama kurang lebih satu dekade, Sarmin menganggap gajah-gajah tersebut sebagai bagian dari keluarganya.

"Pada dasarnya gajah itu memiliki perasaan, sama seperti manusia," Sarmin menjelaskan. "Jadi saya harus memperlakukannya seperti saya memperlakukan anak-anak saya. Gajah kadang sangat sensitif, jadi saya harus membuat gajah itu merasa nyaman."

Sarmin menjelaskan, seorang mahot harus bisa mengenali karakter setiap gajah yang ada di Camp EFS. Dengan mengenali karakter setiap gajah, maka mudah bagi para mahot untuk memberi instruksi kepada para gajah tersebut. Bagi Sarmin, caranya berkomunikasi dengan gajah-gajah tersebut sama seperti ketika ia berbicara dengan manusia.

"Ya seperti ngobrol biasa dengan manusia, dan terkadang juga saya membelai gajah tersebut sehingga mereka bisa mengerti apa yang saya katakan," kata Sarmin. "Gajah akan mematuhi instruksi yang saya berikan, kemudian setelah gajah tersebut melakukannya, saya akan memberikan hadiah kepadanya, seperti gula merah atau suplemen gizi tambahan."

Sarmin memiliki kedekatan khusus dengan gajah jantan bernama Adei dan gajah betina bernama Ika. Selain memberi makan, Sarmin juga memandikan mereka berdua sekaligus memeriksa kuku, gigi dan mulut mereka. Tim EFS juga didukung oleh dokter hewan yang rutin melakukan pengecekan kondisi kesehatan para gajah sekaligus pemberian vitamin setiap bulan.

 

Bagi Sarmin, gajah adalah binatang yang sangat lucu. Apalagi ketika Sarmin sedang bermain atau memandikannya. Saat Sarmin libur atau cuti, rasa rindu kepada gajah-gajah itu muncul. Ia seakan ingin terus bermain dengan gajah di EFS.

"Ketika saya cuti, saya merindukan gajah, maka saya akan menelepon mahot lainnya dan bertanya tentang kondisi gajah di sana. Saya melakukan itu untuk menyembuhkan kerinduan saya," kata Bapak tiga orang anak ini.

Sebelum menjadi mahot, Sarmin bekerja di Taman Nasional Way Kambas, Lampung sebagai pemberi makan gajah. Pada tahun 2006, ia mendapat kesempatan untuk bergabung dengan EFS milik Grup APRIL.

Pada awalnya, EFS adalah sebuah program yang dicanangkan oleh World Wildlife Fund (WWF) untuk membantu mengurangi jumlah kematian gajah liar di Sumatera. Pada tahun 2015, jumlah angka kematian gajah sebanyak 10 ekor, namun berkat tim EFS, angka tersebut turun menjadi 4 ekor di tahun 2016. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Grup APRIL untuk turut membentuk EFS di Ukui.

Saat ini, Tim EFS terdiri dari 6 ekor gajah dan 9 orang mahot. Gajah jantan pertama yang dirawat bernama Adei. Kemudian datang tiga ekor gajah betina bernama Ika, Meri, dan Mira. Di tahun 2006, Meri melahirkan Carmen, dan dua tahun setelahnya Mira menyusul dengan melahirkan gajah jantan bernama Raja Arman. Gajah-gajah inilah yang menjadi ‘pasukan perdamaian’ dengan memitigasi gajah-gajah liar untuk kembali masuk ke hutan.

Tim EFS biasanya berpatroli ke dalam hutan untuk mencegah konflik yang kerap terjadi di antara manusia dan gajah liar. Tim EFS akan memandu gajah-gajah liar menjauh dari pemukiman warga dan kembali ke hutan.

"Pergerakan gajah liar biasanya musiman," kata Sarmin. "Dalam setahun gajah bisa memasuki daerah pemukiman sebanyak empat kali."

Menurut data dari WWF, saat ini jumlah gajah liar yang berada di Sumatera semakin berkurang. Hal ini dikarenakan habitat gajah tersebut terancam akibat pembalakan liar, yang menyebabkan gajah tersebut memasuki pemukiman warga.

Masuknya gajah ke daerah pemukiman menyebabkan rumah warga menjadi rusak. Warga yang marah kerap kali melampiaskan emosinya ke gajah tersebut, dan berujung pada kematian si gajah. Maka dari itu, EFS mencoba memitigasi konflik yang terjadi dengan mendidik masyarakat setempat agar angka kematian gajah terus berkurang.

"Saat berpatroli, kami juga melibatkan masyarakat. Kami memberi contoh dan instruksi agar tidak ada gajah liar yang menjadi korban," ungkap Sarmin sembari memberi makan Ika.

Upaya pencegahan konflik ini tidak terlepas dari upaya APRIL yang terus berkomitmen untuk menjaga lingkungan sekitarnya sesuai dengan salah satu filosofi APRIL: Good for Community.

 Bagikan  Email  Cetak