Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Memiliki pekerjaan yang berisiko tinggi, merupakan hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Boy Sastra.  Pria berumur 27 tahun ini berprofesi sebagai penjinak api (Fire Fighter). Panas terik api dan kabut asap tak pernah mematahkan semangat Boy untuk terus bertarung melawan api.

Boy memulai karirnya sebagai penjinak api sejak tahun 2010, dengan bergabung bersama tim Fire Fighter dari PT. Riau Andalan Pulp and Paper (PT. RAPP) di Pangkalan Kerinci, Riau. Satu hal yang mencuri perhatian Boy ketika pertama kali bergabung dengan tim Fire Fighter, adalah kendaraan amfibi atau airboat milik RAPP.

“Pertama kali melihat airboat, saya langsung tertarik untuk bisa mengendarai airboat tersebut,” ujar Boy dengan semangat.

Bersama 7 karyawan lainnya, Boy dilatih dan dididik oleh PT.RAPP agar bisa mengendarai perahu amfibi yang memiliki baling-baling besar dibelakangnya tersebut. Tak hanya menjadi operator kendaraan Fire Fighter untuk diareal gambut saja, Boy juga dilatih untuk mampu menjadi garda pemadam kebakaran di area konsesi maupun di lahan masyarakat yang berada di sekitar perusahaan.

“Saya awalnya bingung juga, namun setelah diberikan pelatihan dan mendapat Surat Izin Operator, saya dan rekan-rekan menjadi mantap”, ujar ayah dari satu orang anak ini.

Terdapat 4 jenis kendaraan yang biasa digunakan Boy dan timnya untuk mengatasi kebakaran hutan. Keempat alat tersebut memiliki spesialisasi masing masing. Jika yang melewati jalur darat, Boy menggunakan mobil operasional. Untuk jalur rawa dan sungai, mereka menggunakan speedboat dan airboat. Sedangkan untuk jalur udara tim Fire Fighter menggunakan helicopter.

Tim Fire Fighter paling sering menggunakan airboat ketika menjalankan tugasnya. Hal ini dikarenakan airboat memiliki keunggulan dibandingkan kendaraan lain. Contohnya, airboat mampu mengangkut banyak alat yang biasa digunakan untuk memadamkan api. Selain itu, karena areal lahan yang mayoritas adalah rawa dengan kedalaman 30 cm, airboat menjadi primadona bagi Boy beserta timnya.

Boy pun bercerita, tentang pengalaman unik yang tak akan mungkin ia lupakan seumur hidupnya. Saat kebakaran hebat di tahun 2015, Boy memutuskan tetap bekerja memadamkan api di area konsesi yang berbahaya meski di waktu bersamaan dia harus mempersiapkan pernikahannya. Boy baru pulang dua hari jelang pernikahannya.

Fire Fighter memang dipersiapkan PT.RAPP tak hanya untuk memadamkan lahan di areal perusahaan saja, namun juga di areal masyarakat sekitar. Tak pelak, terkadang seorang Fire Fighter bisa bertugas di dalam hutan hingga berminggu-minggu untuk memastikan api benar-benar padam. Bahkan Boy pun  pernah ditugaskan untuk memadamkan kebakaran hutan di Balikpapan, Kalimantan Timur.

 

“Saya bahkan pernah 6 bulan bertugas tidak pulang-pulang karena pemadaman kebakaran hutan di musim kemarau yang panjang. Tidur beralaskan gambut dan beratapkan langit itu sudah biasa. Untungnya keluarga saya sudah paham dan selalu mendukung pekerjaan saya”, papar Boy yang mengaku beruntung memiliki keluarga yang memahami dan mendukung pekerjaannya saat ini.

Tim Fire Fighter ini juga merupakan bagian dari Program Desa Bebas Api milik PT. RAPP. Program ini menawarkan pelatihan dan peralatan ke masyarakat agar desanya bisa terbebas dari kebakaran. Jika desa tersebut berhasil, masyarakatnya akan mendapatkan penghargaan berupa bantuan dana dari PT. RAPP.

 

Hingga saat ini PT.RAPP telah menginvestasikan 6 juta dollar AS untuk alat-alat kebakaran dan 2 juta dollar AS per tahun untuk biaya operasional. 

 Bagikan  Email  Cetak