Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Pandemi telah menghantam pariwisata global. Kini saatnya kita menghidupkan kembali industri pariwisata agar tetap bisa tumbuh secara berkelanjutan.

Masih jelas dalam ingatan saat media sosial diramainkan oleh potret kosongnya ruang tunggu bandara dan jejeran pesawat tak terisi pada Maret 2020 lalu. Saat itu, sejumlah negara mulai mengambil langkah reaktif dengan menutup negaranya (lock down) dengan harapan dapat menghentikan penyebaran pandemi Covid-19.

Setahun telah berlalu dan tampaknya pariwisata global masih sulit untuk “sembuh” dari situasi ini. Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) mencatatkedatangan turis internasional pada tahun 2020 turun sekitar 74 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 1,5 miliar. Akibatnya, sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia ini harus mundur jauh imbas Covid-19. Dampak dari situasi pandemi ini sangat menyedihkan bagi banyak negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik, di mana pariwisata merupakan sumber pendapatan utama.

Bali misalnya, pulau dengan jumlah turis terbanyak dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Pada tahun 2020, Bali mengalami penurunan pengunjung sebesar 85 persen di mana hotel, restoran, dan berbagai macam tempat wisata terpaksa ditutup. Dengan kontribusi sektor pariwisata yang mencapai 80 persen dari seluruh perekonomian di Pulau Dewata, penduduk lokal diharuskan untuk berjuang lebih keras lagi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak mantan pekerja hotel terpaksa kembali ke desa mereka, mengolah tanah untuk bercocok tanam atau kembali menjadi petani rumput laut. Lalu muncul pertanyaan: Apakah pariwisata Bali sudah tidak bisa diselamatkan

Pariwisata yang berkelanjutan

Menurut UNWTO, pariwisata berkelanjutan didefinisikan sebagai “Pariwisata yang benar-benar memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan demi memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat”.

Pentingnya keberlangsungan industri pariwisata mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersolek untuk menciptakan industri pariwisata yang tak hanya semakin digemari namun sejalan dengan Tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDGs). Segala aturan terkait pariwisata disesuaikan untuk mendukung agenda PBB tersebut dalam satu kali dayung.

Seperti diketahui, pemerintah sendiri telah menetapkan 10 destinasi prioritas baru yang diharapkan dapat menjadi “Bali selanjutnya” di waktu mendatang. Di tengah pandemi, kementerian telah mengeluarkan program sertifikasi yang berfungsi sebagai tindakan pencegahan penularan Covid-19 di industri travel dan pariwisata. Program sertifikasi tersebut juga menjadi prasyarat bagi semua orang yang akan bepergian ke luar kota agar tetap bisa beraktivitas dengan aman di masa pandemi.

Sertifikasi ini bertujuan untuk menegakkan serangkaian protokol kesehatan berdasarkan Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan,. Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE). Diperkenalkan pada Agustus 2020, program sertifikasi diluncurkan bersamaan dengan kampanye InDOnesia CARE, yang diprakarsai oleh Kemenparekraf. Kampanye tersebut dibuat untuk meningkatkan ekonomi lokal melalui promosi dan penegakan protokol kesehatan yang ketat.

Pasca pandemi, Bali dan destinasi pariwisata lain di Indonesia harus mematuhi protokol CHSE. Setelah berbulan-bulan berada dalam ketidakpastian, dan dengan begitu banyak hal yang dipertaruhkan, seperti mata pencaharian dan pengembangan masyarakat lokal; program sertifikasi adalah salah satu strategi paling efektif yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia untuk menghidupkan kembali industri travel dan pariwisata, sekaligus bangkit dari keterpurukan tahun lalu.

Inisiatif untuk mengembangkan pariwisata

Namun, tugas tersebut tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Setiap pemangku kepentingan harus terlibat dalam pengembangan pariwisata agar industri ini dapat menjadi penopang perekonomian Indonesia di masa mendatang. Berbagai macam bidang bisnis dapat kita ciptakan untuk mendukung masyarakat setempat dalam memajukan industri pariwisata disekitar mereka.

 

Salah satunya adalah apa yang dilakukan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Jauh sebelum pandemi, perusahaan telah lama mendukung pariwisata lewat festival lomba perahu dayung berusia 115 tahun Pacu Jalur, yang merupakan salah satu warisan budaya tertua di Riau. Setiap tahunnya, ratusan perahu tradisional berbaris melintasi jalur festival di Kabupaten Kuantan Singingi, yang juga dikenal sebagai Tapian Narosa. Kegiatan Pariwisata ini mampu menarik ribuan turis dari seluruh dunia dan berperan penting dalam meningkatkan ekonomi lokal karena menggabungkan berbagai kegiatan hiburan, seperti pertunjukan dan pasar malam tradisional.

Oleh karena itu, dukungan RAPP menjadi elemen yang sangat berharga dalam membantu festival tradisional ini untuk berkembang pesat. Pada 2017, Festival Pacu Jalur mendapatkan reputasi dan gelar sebagai festival turis paling populer pada Anugrah Pesona Indonesia.

Namun, karena pandemi, acara tersebut harus ditunda hingga waktu yang belum dapat ditentukan - hingga cukup aman bagi pengunjung untuk berkumpul dalam jumlah besar. Menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Kuantan Singingi, festival tersebut diharapkan dapat dilanjutkan pada tahun 2022.

Tak hanya itu, perusahaan juga mendukung pemugaran Istana Peraduan. Bangunan yang memiliki nilai historis tinggi ini milik keluarga kerajaan Siak Sri Indrapura yang merupakan bagian dari kesultanan Melayu Riau. Kontribusi ini bertujuan untuk mendukung Riau sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Namun, pada akhirnya, pengembangan pariwisata tersebut bermuara pada kontribusi dan tanggung jawab pribadi kita masing-masing sebagai pelancong dan pengunjung. Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendorong pariwisata yang berkelanjutan:

  • Memahami aturan setempat 
    • Sebelum kita bepergian, alangkah baiknya untuk terlebih dahulu memahami aturan dan adat istiadat setempat dari daerah yang akan kita kunjungi. Misalnya, beberapa negara atau daerah bisa jadi menerapkan aturan berpakaian yang sopan dan kebijakan aktivitas malam hari yang cukup ketat. Janganlah menjadi turis menyebalkan atau menyinggung komunitas lokal dengan bertindak di luar kebiasaan mereka.
  • Makan makanan lokal  
    • Mencoba makanan lokal adalah bagian terbaik dari traveling! Ketika membeli makanan lokal, berarti kita juga mendukung pertanian, produsen lokal, menciptakan lapangan kerja bagi mereka yang berada di bisnis makanan lokal dan pusat distribusi. Kesimpulannnya, bila kita membeli makanan lokal, secara tidak langsung kita telah meningkatkan perekonomian lokal serta meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
  • Kurangi sampah Anda 
    • Bersihkan sampah kita sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan membawa reusable bags dan selalu membuang sampah pada tempatnya. Ingatlah bahwa kita adalah tamu di negara atau wilayah orang lain; jadi perlakukan semua orang dan setiap tempat dengan baik sembari tetap mendukung bisnis lokal.

Hanya dengan menerapkan praktik berkelanjutan untuk komunitas lokal, pelancong dan industri pariwisata dapat diselamatkan dan mampu menghadapi tantangan saat ini tanpa membahayakan masa depan.

Artikel Lainnya

Helmi, Dari Pembakar Lahan Menjadi Pelin...
Helmi, Dari Pembakar Lahan Menjadi Pelin... Musibah kebakaran yang menimpa Helmi pada tahun 2008 silam, telah mengajarkannya banyak hal. Kebakaran tersebut diakibatkan oleh ulah Helmi yang membuka lahan d...
Praktik Pengolahan Air Berkelanjutan
Praktik Pengolahan Air Berkelanjutan Yulius sudah bekerja sebagai Kepala Pengolahan Air di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) selama lebih dari 17 tahun. Dia  bertanggung jawab untuk mengelola a...
Wanita Hebat di Ranah Kehutanan
Wanita Hebat di Ranah Kehutanan Dunia kehutanan sering kali dikaitkan dengan ‘dunianya laki-laki’. Kendati demikian, tak sedikit figur perempuan yang menunjukkan tajinya dengan menjadi pemimp...
 Bagikan  Email  Cetak