Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Sumatra terkenal dengan keanekaragaman faunanya yang sangat langka. Salah satu yang terkenal ialah Gajah Sumatra. Hewan bertubuh besar ini masuk dalam jajaran fauna yang turut mempercantik pulau di ujung barat Indonesia ini. Sayangnya, jumlah populasi Gajah Sumatra makin hari kian menurun. WWF memperkirakan, hanya ada 2.400-2,800 ekor Gajah Sumatra yang tersisa di alam bebas, dan hanya ada sekitar 100 ekor yang hidup di pulau Sumatra itu sendiri.

Penyebabnya adalah karena habitat mereka yang semakin kecil akibat penebangan liar. Secara tidak langsung, para gajah ini akan berebut lahan dengan manusia. Ketika hal tersebut terjadi, para gajah kerap merusak tanaman dan fasilitas di pemukiman warga. Konflik tersebut kadang berakhir dengan kematian manusia atau gajah itu sendiri. 

Untuk membantu mengatasi masalah ini, Grup APRIL berinisiatif mendirikan tim khusus bernama Flying Squad, yang terbagi dalam dua regu, di antaranya regu gajah terlatih yang berpatroli di hutan dan regu yang membawa gajah liar menjauh dari pemukiman warga.

Skema ini dibuat oleh WWF untuk membantu mengurangi angka kematian gajah liar di Sumatra, yang mulanya pada tahun 2015 sebanyak 10 ekor, menjadi empat ekor di tahun 2016.

Konservasia

Sebelum Flying Squad dibentuk, sejarah mencatat, dalam upaya memaksimalkan konservasi hewan, pemerintah pada tahun 1994 memutuskan untuk menyerahkannya ke sektor swasta. Pemerintah membuat peraturan yang mewajibkan perusahaan di sektor kehutanan dan perkebunan untuk mengadopsi hewan yang terancam punah, termasuk gajah.

Di tahun yang sama, APRIL, melalui anak perusahaannya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di provinsi Riau, dengan senang hati menerima empat gajah dari Balai Konservasi Gajah Sebanga, milik pemerintah Lampung, sebuah provinsi di ujung bawah Sumatra. 

Gajah terbesar yang dimiliki RAPP bernama Adei, seekor gajah jantan yang lahir pada tahun 1986. Selain itu ada pula Ika dan Meri, dua ekor gajah betina ini lahir ditahun yang sama dengan Adei. Yang termuda ialah Mira, seekor gajah perempuan yang lahir setahun setelahnya.

"Ini semua tentang bagaimana cara kita melestarikan satwa liar. Itulah tujuan kami dari dulu hingga sekarang," kata Putra Nicaragua, Koordinator Departemen Lingkungan RAPP, yang peduli terhadap kelestarian Gajah Sumatra

RAPP mempekerjakan sembilan pawang untuk merawat gajah-gajah tersebut. Selain itu RAPP juga rutin menerima kunjungan dari dokter hewan, agar kesehatan para Gajah Sumatra tersebut terjamin.

Gajah-gajah tersebut tumbuh dan berkembang biak secara sehat di hutan konsesi milik RAPP seluas 3000 Hektar. Pada tahun 2009 Meri melahirkan seorang bayi gajah perempuan bernama Carmen. Selang dua tahun kemudian, Mira melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Raja Arman.

"Prioritas utama kami adalah melihat mereka tumbuh sehat dan berkembang biak untuk membantu me menurunkan jumlah angka kematian gajah. Dengan cara ini lah kami berkontribusi untuk melestarikan satwa liar tersebut, "kata Putra.

Flying Squad

Pada tahun 2005, RAPP bersama Badan Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Dewan Taman Nasional Teso Nilo, WWF, dan perusahaan lain di wilayah tersebut, menandatangani sebuah MOU untuk membentuk Flying Squad. Kemudian di tahun 2006, RAPP berinisiatif membangun sebuah kamp untuk Flying Squad di Ukui, Riau.

Taman Nasional Teso Nilo merupakan salah satu habitat terbesar Gajah Sumatra yang letaknya berdekatan dengan area konsesi RAPP. Sayangnya di Taman Nasional tersebut kerap terjadi penebangan liar oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menyebabkan para gajah tersebut merasa tidak nyaman dan mulai bergerak memasuki kawasan habitat manusia. 

"Gajah-gajah tersebut mulai keluar dari taman nasional untuk mencari makanan dan tempat tinggal," kata Putra. "Mereka bisa pergi ke dua tempat, yaitu pemukiman warga atau ke kawasan konsesi perusahaan."

Ketika gajah-gajah tersebut memasuki pemukiman warga, mereka dapat merusak perkebunan dan peternakan, dan membuat marah masyarakat setempat. "Akibatnya, bentrokan antara manusia dan satwa liar tidak dapat dihindari. Ini tentunya mengancam nyawa manusia dan gajah itu sendiri. Ini semua dimulai sejak gajah kehilangan habitatnya, "kata Putra. "terjadi insiden mematikan setiap tahun," tambahnya.

Di sinilah Flying Squad memberikan kontribusinya. Flying Squad bertugas untuk berpatroli menjaga gajah liar tersebut agar tidak melewati batas dan memasuki pemukiman warga. Tim Flying Squad rutin melakukan patroli reguler untuk membimbing gajah liar menemukan kembali habitatnya dan menjauh dari daerah pemukiman

"Untungnya, kita memiliki hutan dengan luas 3.000 hektare, yang bisa dijadikan penyangga gajah liar untuk mencari makanan dan bermain. Kami membiarkan gajah itu tinggal di sana, dan tidak pernah mendorong mereka keluar, "kata Putra.

Flying Squad adalah salah satu contoh kerjasama yang luar biasa antara pemerintah dan sektor swasta, untuk melindungi lingkungan sekitar kita. Hal ini terbukti dari manfaat yang diterima masyarakat lokal, yang sekaligus membantu melestarikan gajah yang terancam punah.

Foto mengenai keindahan Gajah Sumatra bisa dilihat di sini

 Bagikan  Email  Cetak