Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang meningkat, pemerintah Indonesia secara konsisten menegaskan pentingnya menanggulangi masalah ini.

Salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah melalui Program Kampung Iklim, yang mendorong masyarakat setempat untuk melakukan adaptasi perubahan iklim dan kegiatan mitigasi.

Kegiatan yang dilakukan diantaranya pengelolaan dan pembuangan limbah yang tepat, produksi biogas, pengomposan, reboisasi, dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Rumah Bibit untuk para warga Kampung Iklim di Desa Gunung Sari

Kampung Iklim bertugas menjaga lingkungan mereka agar tetap bersih dan hijau. Mereka juga selalu siap menghadapi setiap potensi bencana kelaparan, kekeringan atau banjir.

Di antara desa-desa yang menyadari pentingnya program ini adalah Desa Gunung Sari di kabupaten Kampar, Riau. Sejak awal inisiatif ini berjalan, warga Gunung Sari menyadari perlunya mengubah cara mengelola desa mereka.

Ada banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat, serta kurang asri. Penduduk desa masih melakukan praktik yang tidak ramah lingkungan seperti pembakaran lahan, dan memiliki sedikit pengetahuan tentang bagaimana menjaga emisi gas rumah kaca (GRK) tetap rendah.

Penduduk desa diberitahu bahwa dengan menjadi Kampung Iklim dan melaksanakan adaptasi terhadap perubahan iklim serta kegiatan mitigasi, Desa Gunung Sari akan menjadi jauh lebih hijau dan asri, dengan panen air hujan dan mekanisme ketahanan pangan yang lebih baik untuk memastikan kebutuhan air dan makanan mereka akan terpenuhi. Mereka juga tertarik untuk belajar bagaimana menjaga kesehatan  dan mencegah penyakit terkait iklim di desa.

Dengan bantuan  Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), penduduk Desa Gunung Sari saat ini dapat melakukan sejumlah cara pengurangan emisi GRK sambil terus menjaga desa mereka tercinta dari dampak perubahan iklim tersebut.

RAPP bermitra dengan Desa Gunung Sari dalam melaksanakan Program Kampung Iklim, sebagai salah satu inisiatif Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau CSR. Di bawah program kemitraan, RAPP memberikan bantuan dan pelatihan kepada warga Gunung Sari, terutama seputar ketahanan pangan.

Untuk aspek keamanan pangan, RAPP membantu pembudidayaann berbagai tanaman pangan dengan menggunakan benih, pupuk dan pelatihan pertanian yang disediakan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa kebutuhan makanan penduduk desa akan terpenuhi dan berkelanjutan.

Selain urusan pertanian, warga juga dilatih tentang cara memanfaatkan kebun mereka sendiri untuk menanam tanaman yang berguna bagi keluarga dan tetangga mereka, termasuk sayuran dan tanaman obat.

Pekarangan yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan

 

Indra Kurniawan, Kepala Desa Gunung Sari, mengatakan bahwa “masyarakat sekarang bisa mendapatkan bahan dasar memasak dengan memetiknya langsung dari kebun mereka sendiri”.

“Bermitra dengan RAPP dan mengikuti panduan yang mereka berikan, telah membuahkan hasil yang positif bagi komunitas kami,” tambahnya.

Zamzuli Hidayat, Koordinator Program Sistem Pertanian Terpadu  RAPP (IFS), mengatakan bahwa perusahaan juga membantu memfasilitasi pengumpulan data adaptasi perubahan iklim dan aktivitas mitigasi.

Sebuah desa perlu mengumpulkan dan merekam data sebagai bagian dari persyaratan untuk diakui secara resmi sebagai Kampung Iklim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jelasnya.

“Kami membantu mereka dan memberikan informasi tentang apa yang bisa dilakukan di desa mereka. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat siap menghadapi perubahan iklim, ”kata Zamzuli.

RAPP telah memberikan pembekalan informasi tentang cara menangani limbah, pengelolaan kompos sampah organik dan menjelaskan bagaimana sampah non-organik harus didaur ulang atau dijual kembali.

Setelah mendapatkan pelatihan tentang tentang cara mendaur ulang limbah ternak menjadi gas metana, warga Desa Gunung Sari mulai menggunakan biogas sebagai bahan bakar alternatif.

"Kami membantu masyarakat dengan menyediakan peralatan yang diperlukan untuk melakukan konversi biogas - biasanya, drum yang digunakan dengan kapasitas 200 liter dapat digunakan oleh satu rumah tangga untuk memasak sehari," katanya.

Selain sejalan dengan tujuan menjadi Kampung Iklim yang sukses, biogas juga menghemat pengeluaran rumah tangga.

“Kami dulu harus mengganti gas biasa seminggu sekali, tapi sekarang dengan biogas, kami bisa menggunakannya terus menerus dengan cukup menambahkan 1-2 ember limbah kotoran ternak setiap pagi untuk memperbarui bahan sumber gas,” kata Indra.

Limbah ternak juga digunakan sebagai pupuk untuk tanaman masyarakat. Hal ini mengurangi penggunaan pupuk kimia dan kerusakan lingkungan, katanya.

Saat ini, Desa Gunung Sari memiliki lebih banyak tanaman hijau, dan penduduk tidak lagi khawatir tentang cara menanam makanan dan mendapatkan air.

Masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran lahan, dan saling bekerja sama untuk menjaga sanitasi desa dan pencegahan penyakit dengan mengadakan pertemuan kelompok dan pembukuan rutin  .

Sampai saat ini, RAPP telah membantu tujuh desa untuk menjadi bagian dari Kampung Iklim seperti Lalang Kabung, Sering, Pelalawan, Teluk Meranti, Olak, Banjar Benai, dan Gunung Sari. Ketujuh desa tersebut terletak di dekat area operasional perusahaan.

 Bagikan  Email  Cetak