Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Pandemi telah menghantam pariwisata global. Kini saatnya kita menghidupkan kembali industri pariwisata agar tetap bisa tumbuh secara berkelanjutan.

Masih jelas dalam ingatan saat media sosial diramainkan oleh potret kosongnya ruang tunggu bandara dan jejeran pesawat tak terisi pada Maret 2020 lalu. Saat itu, sejumlah negara mulai mengambil langkah reaktif dengan menutup negaranya (lock down) dengan harapan dapat menghentikan penyebaran pandemi Covid-19.

Setahun telah berlalu dan tampaknya pariwisata global masih sulit untuk “sembuh” dari situasi ini. Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) mencatatkedatangan turis internasional pada tahun 2020 turun sekitar 74 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 1,5 miliar. Akibatnya, sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia ini harus mundur jauh imbas Covid-19. Dampak dari situasi pandemi ini sangat menyedihkan bagi banyak negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik, di mana pariwisata merupakan sumber pendapatan utama.

Kita bisa memilih makanan mana yang enak dan menggugah selera. Namun, sebenarnya, menu seperti apa yang baik untuk tubuh kita?

Di tengah pandemi, kita harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang ingin kita konsumsi; dan bisa jadi plant-based food atau makanan dari tumbuh-tumbuhan alias nabati bisa menjadi solusi dalam menjaga kesehatan Anda. Selain menurunkan risiko penyakit jantung, makanan itu juga dikenal ramah lingkungan dan berkelanjutan, loh.

Makanan nabati fokus pada bahan-bahan yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan, yaitu buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, polong-polongan, gandum dan minyak.

 

Meski memfokuskan konsumsi pada jenis nabati, masyarakat penikmat makanan nabati tidak sepenuhnya menolak produk daging, kok, namun porsi sayur dan buah yang mereka makan tiap hari lebih besar dibandingkan hewani.

Inilah waktunya untuk berbahagia! Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 20 Maret sebagai Hari Kebahagiaan Internasional dalam upaya mendorong kesadaran akan pentingnya tiga aspek utama yang membantu manusia hidup bahagia dan sejahtera: memangkas ketidaksetaraan, mengakhiri kemiskinan, dan melindungi planet kita.

Di APRIL, kebahagiaan karyawan adalah aspek penting bagi bisnis kami. Untuk merayakan Hari Kebahagiaan ini, kami berbincang dengan lima karyawan untuk mempelajari cara mereka memaknai kebahagiaan di APRIL.

Katanya, apa yang kita makan berdampak pada perubahan iklim. Aneh memang, tapi begitulah kenyataanya.

Tahukah kalian proses produksi makanan menyumbang seperempat emisi gas rumah kaca dunia? Salah satu cara paling efektif untuk menguranginya adalah dengan menerapkan gaya hidup berkelanjutan demi mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Misalnya, dengan mengonsumsi makanan lokal yang diketahui dapat mengurangi jejak karbon hingga 7 persen.

Nah, dengan kita bijak memilih makanan, kita sudah membantu menjaga kelestarian lingkungan loh. Tak hanya melestarikan kuliner lokal yang dikenal kaya rasa, menikmati “pangan lokal” berarti efisien dalam mengurangi jarak tempuh transportasi sekaligus mendukung usaha di sekitar kita tinggal. Yang pada akhirnya, akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia

 Bagikan  Email  Cetak