Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki dataran rendah dengan hutan tropis di dalamnya. Lokasi tersebut menjadi rumah bagi varietas Pohon Sialang, sebuah pohon tinggi yang menjadi tempat lebah memproduksi madu, atau yang lebih dikenal dengan madu Sialang.

Madu tersebut sangat berharga bagi masyarakat lokal di sana, karena dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Selain itu, proses pemanenan madu Sialang juga telah menjadi praktek budaya yang sudah dilakukan turun-temurun oleh bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitaran hutan tersebut.

Madu Sialang
Madu Sialang Foresbi asli dari petani lokal di Riau

Akan tetapi, keberadaan Madu Sialang telah menjadi barang yang langka. Hal ini dikarenakan adanya praktik deforestasi secara besar-besaran yang terjadi selama beberapa dekade kebelakang. Ditambah lagi, perilaku para petani madu di sana  yang melakukan pemanenan secara terus menerus sepanjang tahun, membuat madu tersebut sulit untuk beregenerasi.

Dengan menurunnya produksi Madu Sialang dan tidak adanya pelanggan tetap yang membeli madu tersebut, pendapatan para petani madu juga ikut menurun.

Melihat permasalahan ini, PT RAPP turut mencoba memberikan solusi terbaik kepada para petani madu Sialang, dengan mendirikan Rumah Madu Andalan, yang terletak di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu RAPP.

Didirikan sejak tahun 2000, Rumah Madu Andalan berusaha menjadi wadah bagi para petani Madu Sialang untuk menyalurkan hasil panennya, tentunya dengan harga jual yang sangat kompetitif.

Gading S, selaku Koordinator Community Development RAPP, mengatakan bahwa Rumah Madu Andalan kini telah bermitra dengan petani Madu Sialang di lima kabupaten, di antaranya Kuantan Singingi, Pelalawan, Siak dan Kampar.

Menurut Gading, memanen madu Sialang bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses pemanenan madu in harus dilakukan di malam hari. Hal ini dilakukan agar lebah-lebah yang tinggal di pohon Sialang, tidak terganggu dan pergi meninggalkan pohon tersebut.

“Selain itu juga, diperlukan asap untuk memutus komunikasi di antara lebah satu dengan yang lainnya. Jadi mereka tidak akan menyerang petani yang sedang mengambil madu di atas Pohon Sialang tersebut,” ucap Gading.

“Dengan adanya Rumah Madu Andalan, para petani madu bisa langsung menjual hasil panennya ke kami, tanpa harus kebingungan mencari pelanggan,” lanjutnya. 

Setelah menerima madu dari para petani, Rumah Batik Andalan mengolah madu tersebut dengan mengurangi kadar airnya, kemudian dikemas secara menarik dan diberi nama “Foresbi”.

Foresbi, Madu Sialang asli Riau
Madu Sialang Foresbi

 

Kemudian RAPP bertaunggung jawab untuk menjual dan memasarkan madu Foresbi. Madu tersebut dapat dijumpai di toko-toko yang berada di Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu RAPP, Hotel Unigraha, Koperasi Karyawan RAPP.

Selain itu, di Rumah Madu Andalan, RAPP juga mengedukasi dan melatih para petani madu dalam proses pemanenan, agar kedepannya Madu Sialang tetap terjaga keletasriannya dan para petani tersebut terus bisa merasakan manfaat dari madu tersebut. Melalui cara ini, Rumah Madu Andalan tidak hanya berkontribusi melestarikan budaya lokal, akan tetapi juga memberikan informasi kepada para petani madu Sialang tentang bagaimana mempertahankan pasokan madu Sialang yang mereka produksi.

Gading menekankan bahwa Rumah Madu Andalan turut berpartispasi secara langsung setiap kali proses pemanenan madu Sialang.

“Jadi kami dapat menjamin bahwa madu yang diproduksi oleh Rumah Madu Andalan adalah madu Sialang yang asli,” ujar Gading.

Setidaknya dalam satu bulan, Rumah Madu Andalan mampu mengolah madu sebanyak 150-200 kg yang berasal dari petani, dengan omset sekitar 14 juta setiap bulannya.

Hambatan terbesar dalam menjalankan Rumah Madu Andalan ini adalah suplai madu yang terkadang datangnya tidak menentu. Untuk mengatasi masalah ini, Rumah Madu Andalan menjadwalkan pasokan madu dari tiap kabupaten.

“Semisal bulan ini kami menerima pasokan dari Kabupaten Kampar, bulan depan kami hanya akan menerima suplai dari kabupaten lainnya. Hal ini dilakukan agar sarang Madu Sialang yang ada di Kabupaten Kampar tidak habis dan bisa terus beregenerasi,” ujar Gading.

Kedepannya Gading berharap akan ada rumah produksi dan pengolahan madu yang langsung dikerjakan oleh para petani madu.

“Dengan begitu mereka akan lebih mandiri dalam memproduksi Madu Sialang. Tidak seperti sekarang, yang semuanya serba terbatas,” lanjutnya.

 Bagikan  Email  Cetak