Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Ketika menginjak usia 30 tahun, Rahmi dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal bersama keluarganya, atau harus berpisah sementara demi meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

“Seumur-umur, saya tidak pernah jauh dari keluarga saya. Apalagi, ketika itu anak perempuan saya baru berumur dua tahun,” kenangnya.

Saat itu Rahmi menjadi salah satu dari dua orang yang dipilih oleh tim Pengembangan Masyarakat PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), untuk mengikuti pelatihan menenun kain yang diadakan di Pekanbaru, Riau. Sedangkan, Rahmi bersama keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil di Pelalawan, yang jaraknya 139 km dari Pekanbaru. Mau tidak mau, untuk membantu meringankan beban suaminya yang hanya bekerja di tempat cuci mobil, Rahmi tetap harus pergi meninggalkan keluarganya.

Selama masa pelatihan, Rahmi mempelajari teknik-teknik dasar menenun kain, berbagai macam jenis pola kain tenun, dan berbagai fungsi dan kegunaan alat-alat penenun kain.

Kini Rahmi telah menjadi seorang penenun kain yang ahli di desanya. Rahmi kini menghasilkan kain tenun yang ia produksi langsung di rumahnya, menggunakan alat yang diberikan oleh RAPP.

“Saya mampu menghasilkan satu buah kain tenun dalam kurun waktu empat sampai lima hari,” Rahmi bercerita, sembari menambahkan bahwa dari menenun kain, dirinya bisa menghasilkan sekitar 1 hingga 2 juta perbulan.

Rahmi juga merasa bangga karena kain tenun yang pertama kali ia buat, telah dibeli langsung oleh Direktur RAPP.

"Dia senang dengan kain tenun yang saya buat. Hal tersebut membuat saya jadi lebih termotivasi untuk melanjutkan menenun kain lagi setelah itu," katanya.

Sayangnya, cerita yang agak sedikit berbeda datang dari peserta lain yang mengikuti pelatihan menenun kain, yaitu Sri Mardiah. Sri mengungkapkan, awalnya dirinya sedikit kesulitan untuk mengembangkan kemampuannya dalam menenun kain. Namun pada akhirnya, dengan bimbingan yang baik dari RAPP Sri menjadi mahir menenun kain.

“Mereka sangat membantu saya dengan sangat sabar, mereka juga membantu mempromosikan dan memasarkan hasil tenun buiatan saya,” ujar Sri.

RAPP memulai program menenun kain ini pada tahun 2017, sebagai bentuk upaya perusahaan dalam menciptakan penghasilan tambahan di masyarakat sekitar, dengan memberikan mereka kesempatan dan pelatihan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Sebagai bagian dari program, perusahaan memberikan para peserta pelatihan, peralatan, bahan-bahan utama, sekaligus membantu mereka memasarkan hasil produksinya.

"Kami tertarik pada kain tenun karena ini merupakan warisan budaya yang sudah mulai dilupakan orang-orang, jadi kami ingin melestarikannya," kata Raden Ade Pramono, selaku Koordinator Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) RAPP.

"Kain tenun turut berkontribusi dalam mempromosikan industri tekstil Indonesia. Selain itu, produk ini juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dengan begitu Pangkalan Kerinci akan segera menjadi saksi dari maju dan berkembangnya sebuah start-up milik Asia Pacific Rayon (APR) yang memproduksi serat viscose-rayon."

Raden berharap program kedepannya Pelalawan akan memiliki sentra kain tenunnya sendiri.

“Kami ingin Rahmi dan Sri menjadi contoh di desa mereka. Diharapkan bahwa dengan melatih mereka - dan orang lain di masa depan – lambat laun akan membuat industri kain tenun semakin dikenal karena keahliannya dalam menenun dari waktu ke waktu,” tambahnya.

 Bagikan  Email  Cetak