Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

Rendy Kurniawan, 13 tahun, tidak lagi harus khawatir saat ingin berangkat sekolah setiap hari berkat Program Desa Bebas Api yang diinisiasi oleh Grup APRIL. Dulu Rendy takut berangkat ke sekolah karena harus melewati jembatan tua dari kayu yang sudah rapuh.

“Saya pernah jatuh dari sepeda, seragam kotor dan basah. Jadi saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak sekolah,” ujar Rendi yang kini duduk di kelas 2 SMP Negeri Tanjung Padang, Kepulauan Padang, Riau.

“Kebanyakan kawan saya pernah mengalami hal yang sama. Mereka akhirnya memilih untuk tidak sekolah. Sekarang semua sudah berubah,” ujarnya.

Desa Tanjung Padang mendapatkan hadiah sebesar Rp 100 juta dalam bentuk hibah infrastuktur dari Program Desa Bebas Api Grup APRIL tahun 2016. Mereka berhasil menjadi desa yang sukses mencegah kebakaran lahan dan hutan sepanjang tahun 2016. Setelah mendapatkan hadiah tersebut, para petinggi desa bersama tokoh masyarakat memutuskan membangun jembatan.

“Ini adalah jalur utama menuju pelabuhan dan sekolah. Jembatan ini sangat vital untuk kegiatan sehari-hari dan konektivitas antardesa,” ujarnya. Jembatan kecil dan sederhana ini menjadi vital bagi kegiatan ekonomi masyakarat karena mempermudah transportasi angkutan barang kebutuhan pokok.

Pada tahun 2015, desa Tanjung Padang menjadi salah satu desa yang mengalami kebakaran hebat. Desa ini kemudian bergabung dengan Program Desa Bebas Api Grup APRIL dan berhasil membuat mereka menjadi salah satu desa yang terbebas dari kebakaran lahan dan hutan di tahun berikutnya. “Jadi hadiah ini bukan motivasi utama kami karena kami punya pengalaman buruk . Kami ingin berubah dan hidup tanpa ketakutan,” ujarnya.

Tanjung Padang merupakan salah satu dari 27 desa yang mengikuti program Desa Bebas Api. “Pada tahun 2014 kami memulai program ini dengan 4 desa. Sekarang kami punya 18 Desa Bebas Api dan 9 Desa Tangguh Api,” kata Sailal Project Manager Desa Bebas Api Grup APRIL.

Program ini membantu desa setempat untuk dapat terbebas dari masalah kebakaran lahan dan asap. Perusahaan memberikan bantuan berupa alat agar masyarakat tetap bisa membuka lahan tanpa membakar. Program ini sudah berhasil membuka 20 hektar lahan pertanian untuk masyarkat. “Mereka menggunakan lahan untuk menanam Nanas dan Karet,” ujar Sailal.

Mereka berharap mendapat penghargaan untuk di tahun kedua ini. “Kami masih perlu dana untuk membangun 5 lagi jembatan seperti ini karena sulit jika harus mengandalkan dana dari pemerintah,” ujar Sofyan.

Untuk siswa sekolah seperti Rendy dan teman-temannya, hadiah dari program ini berarti mereka akan semakin tenang berangkat ke sekolah. “Saya bisa datang ke sekolah tepat waktu dan desa saya semakin sehat karena bebas api dan asap,” kata Rendy.

 Bagikan  Email  Cetak