Media

Berita, pengumuman dan informasi terkini tentang Grup APRIL

 Bagikan  Email  Cetak

“Kapan edisi komik berikutnya akan keluar? Bisakah kami mendapatkan komik lebih banyak lagi untuk perpustakaan sekolah? Apakah kalian mengunjungi sekolah kami lagi? Kapan?”

Itulah sederet pertanyaan yang dilontarkan oleh para siswa dan kepala sekolah dari berbagai sekolah di Indonesia kepada Riana Ekawati, Project Officer di Program Masyarakat Peduli Api (FAC) yang dicanangkan oleh APRIL dalam kurun waktu satu tahun kebelakang.

Di tahun 2017, Riana telah bekerja keras untuk memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran akan bahaya kebakaran hutan dan lahan di kalangan para siswa di 81 sekolah (51 Sekolah Dasar dan 30 Sekolah Menengah Pertama).

Program FAC ini adalah bagian dari Program Desa Bebas Api (FFVP) yang telah dirilis sejak tahun 2016, yang bertujuan untuk memperkenalkan konsep bebas kebakaran dan meningkatkan rasa inisiatif masyarakat, melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat tersebut.

Salah satunya adalah melalui Program Sekolah Sadar Api, yang mencoba meningkatkan kesadaran para siswa SD dan SMP dampak buruk yang dihasilkan oleh kebakaran. Mereka diajak untuk berpartisipasi dalam lokakarya interaktif berupa diskusi dan seminar yang menarik.

Dalam melaksanakan program ini tim FAC tidak berjalan sendirian. Tim FAC bekerja sama dengan tim Community Development (CD) APRIL dan lembaga swadaya masyarakat untuk mengajak sekolah-sekolah di lima kabupaten di sekitar wilayah konsesi Restorasi Ekosistem Riau, di antaranya Kabupaten Pelalawan, Siak, Kampar, Kepulauan Meranti, dan Kuansing.

“Agak lumayan sulit untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menerapkan praktik pembakaran ketika mereka mencoba membersihkan lahan. Jadi dari sana lah kami berpikir, mungkin cara yang terbaik adalah dengan terlebih dahulu mendidik para generasi penerus, yaitu anak-anak,” ujar Riana.

“Upaya ini akan menjadi program jangka panjang untuk pencegahan praktik pembebasan lahan dengan cara membakar yang dilakukan oleh orang tua mereka. Ditambah lagi jika kita mendidik anak-anak, mereka akan dapat mengingatkan orang tuanya bahwa membakar lahan itu berbahaya sekarang,” Riana menjelaskan.

"Seorang ayah mungkin akan lebih mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak-anaknya, disbanding mendengarkan apa yang kami katakan," katanya.

Komik Bunga dan Alam

Setelah mengidentifikasi sekolah-sekolah mana saja yang akan terlibat dalam Program Sekolah Sadar Api, tim FAC kemudian meminta izin dari kepala sekolah masing-masing untuk memberikan edukasi mengen melakukan upaya pencegahan kebakaran.

Dalam menjalankan program ini, tim FAC menggunakan komik Bunga dan Alam sebagai medium untuk mengedukasi para siswa. Komik-komik tersebut dicetak dalam jumlah yang banyak dan didistribusikan kepada anak-anak sekolah.

Komik, yang mengusung tagline “Bebas asap itu keren!”, menampilkan dua karakter, yaitu Bunga dan Alam – yang mengajarkan tentang dampak buruk dari kebakaran lahan dan pentingnya tindakan pencegahan kebakaran.

Komik Masyarakat Peduli Api edisi Pertama

Riana menceritakan bahwa dia sendiri yang membuat alur cerita untuk komik ini, sementara itu seorang seniman grafis profesional ditugaskan untuk mengilustrasikannya ke dalam sebuah komik.

“Kami menyadari bahwa anak-anak sangat responsif jika ada sosok atau karakter unik yang diperkenalkan ke mereka, contohnya seperti Upin dan Ipin yang berasal dari acara TV Malaysia.

“Karakter Bunga dan Alam di dalam komik ini digambarkan sebagai seorang pahlawan yang melakukan pencegahan kebakaran,” Riana menjelaskan.

Riana juga mengatakan, tagline “Bebas asap itu keren!” terbilang cukup sangat efektif dalam mengedukasi para siswa.

“Para siswa bisa dengan mudah memahami dan mengerti slogan tersebut. Satu kalimat ini sangat cukup untuk mengingatkan mereka mengenai pencegahan kebakaran. Kata tersebut sangat mudah diingat,” ujar Riana.

Riana mengatakan, sehubungan dengan datangnya respon positif dari para siswa, tim FAC pun berinisiatif merilis edisi kedua komik Bunga dan Alam.

Riana mengatakan bahwa komik tersebut tidak hanya dibagikan kepada siswa, akan tetapi beberapa eksemplar komik tersebut juga diberikan ke perpustakaan sekolah.

“Saat ini, hanya siswa di kelas lima dan enam yang berpartisipasi dalam Program Sekolah Sadar Api. Pada usia ini, anak-anak sudah mengetahui apakah sesuatu itu salah atau benar, dan mereka sudah dapat memberikan pengetahuan tentang pencegahan kebakaran kepada orang tua mereka,” katanya.

“Akan tetapi jika siswa dari kelas lain juga ingin membacanya, komik tersebut tersedia di perpustakaan” lanjut Riana.

“Dan perpustakaan selalu membutuhkan lebih banyak eksemplar komik, karena komik tersebut selalu menjadi buku favorit yang dipinjam oleh para siswa,” tambah Riana.

Para siswa yang gembira menerima komik ‘Bunga dan Alam’ edisi ke 2

Langkah Selanjutnya

Menurut Riana, ketika dirinya datang ke sekolah-sekolah dengan Program Sekolah Peduli Api, Ia dan Tim FAC menerima sambutan yang sangat, baik dari siswa maupun kepala sekolah.

“Kami telah mendapatkan tantangan yang cukup unik. Kepala sekolah dengan bersemangat bertanya, kapan kita akan kembali ke sekolah mereka, karena sekolah tidak pernah dikunjungi oleh perusahaan lain atau perwakilan pemerintah untuk mendidik mereka tentang pencegahan kebakaran. Di sini kami merasa tertantang untuk terus berusaha mengedukasi mereka melalui komik,” kata Riana.

“Memberi mereka komik Bunga & Alam dan menunjukkan video membuat mereka menjadi tertarik untuk belajar lebih dalam,” kata Riana.

Satu-satunya keulitan yang harus dihadapi tim FAC adalah terkadang mereka harus mengunjungi beberapa sekolah yang lokasinya sulit untuk dijangkau.

Di tahun 2018, tim FAC akan melibatkan 73 sekolah baru untuk berpartisipasi dalam Program Sekolah Sadar Api. Selain itu akan tetap melibatkan kembali 31 sekolah dasar yang tahun lalu telah turut bergabung, sehingga jumlah sekolah yang berpartisipasi tahun ini menjadi 104.

“Kami akan melakukan sosialisasi lagi di 31 sekolah yang telah kami kunjungi. Hal ini akan menjadi sangat penting karena kami pikir 31 sekolah tersebut berlokasi di dataran rendah yang sangat rentan dan berbahaya jika dibakar,” jelas Riana.

Selain itu, dengan meninjau kembali sekolah-sekolah ini, tim FAC juga akan melibatkan beberapa siswa baru, karena siswa yang telah mengambil bagian dalam program tahun lalu mungkin telah lulus dan melanjutkan studi ke jenjang SMP.

 Bagikan  Email  Cetak