- Detail
Musibah kebakaran yang menimpa Helmi pada tahun 2008 silam, telah mengajarkannya banyak hal. Kebakaran tersebut diakibatkan oleh ulah Helmi yang membuka lahan dengan cara membakar. Helmi pun dituntut untuk mengganti rugi sebesar Rp 20 juta oleh tetangganya, yang lahan perkebunannya ikut terbakar.
“Saya dituntut ganti rugi, dan setelah membayar ganti rugi itu, saya tidak pernah lagi membakar lahan lagi, saya kapok. Gara-gara itu, saya dan istri harus menjual emas untuk biaya ganti rugi,” kata Helmi sambal ia menceritakan tentang masa lalunya.
Helmi merupakan masyarakat Desa Kuala Tolam, Riau, Indonesia. Dahulu, ia adalah satu dari sekian banyak orang yang menerapkan praktik pembebasan lahan dengan cara membakar. Belajar dari pengalaman buruknya tersebut, Helmi pun memutuskan untuk tidak lagi membakar lahan.

Selengkapnya: Helmi, Dari Pembakar Lahan Menjadi Pelindung Hutan
- Detail
Mungkin sebelumnya tidak ada yang pernah menyangka, seorang remaja dari daerah terpencil mampu meraih mimpinya untuk mengenyam pendidikan tinggi dan memberikan kontribusinya bagi perkembangan teknologi negeri ini.
Hal tersebut berhasil dilakukan oleh Efendi, seorang pria asal Pulau Padang, sebuah pulau terpencil yang berada di kawasan Kepulauan Meranti, Riau, Indonesia. Efendi merupakan pelajar pertama asal Pulau Padang yang menerima beasiswa dari Grup APRIL.
“Saya awalnya tidak menyangka bisa sampai di tahap ini, karena sebelumnya tidak pernah ada pelajar dari Pulau Padang yang menerima beasiswa dari APRIL,” kata Efendi.
Terlebih lagi, Efendi berasal dari keluarga yang perekonomiannya rendah, semakin mengubur impian Efendi untuk bisa merasakan bangku kuliah. Keluarga Efendi juga sempat mengalami masa sulit ketika ayahnya terpaksa harus “dirumahkan” dari pekerjaannya.

- Detail
“Menyerah” merupakan sebuah kata yang tidak pernah ada di kamus hidup seorang Tukiman. Keterbatasan fisik yang ia alami semenjak kecil, tak menyurutkan semangatnya untuk bisa hidup dan berkarya seperti orang lain.
Dengan berbekal keahlian mekanik yang ia dapatkan dari sebuah pelatihan, Tukiman memberanikan diri membuka bengkel sepeda motor yang diberi nama Man Service di Desa Gabung Makmur, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Riau.
“Memang dari kecil keadaan saya sudah seperti ini. Tapi saya tidak mau dikasihani sama orang lain,” kata Tukiman. “Karena kondisi saya yang seperti ini, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan seperti orang lain. Maka dari itu saya ingin membuka bengkel sendiri,” Tukiman melanjutkan.
Tukiman membuka usaha bengkelnya sekitar 20 tahun yang lalu, tepat setelah ia memutuskan untuk merantau ke Riau untuk mengikuti program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah. Dalam menjalankan usaha bengkelnya, pria kelahiran Banyuwangi ini dibantu oleh anaknya.

Selengkapnya: Semangat Tak Terbatas Dari Penyandang Disabilitas
- Detail
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan program yang difokuskan tidak hanya untuk Indonesia, namun merupakan sebuah agenda global, yang dimana para anak muda dari berbagai negara turut berkontribusi secara kolektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Hal ini diungkapkan oleh Galuh Widyastuti, 20, yang terpilih mewakili Indonesia dalam konferensi YES4SDG Youth Summit yang digelar di Bangkok, Thailand pada 10-14 Oktober 2017.
Galuh merupakan mahasiswa tahun kedua yang kini tengah berkuliah Universitas Indonesia. Semenjak bulan April lalu, gadis yang berasal dari Salatiga, Jawa Tengah ini terpilih sebagai duta untuk The Fascinating World of Forestry (TFWoF) dengan menyandang gelar Climate Ambassador.

Selengkapnya: Upaya APRIL Dalam Mendukung Pemimpin Muda yang Peduli Lingkungan

