- Detail
Minimnya kesempatan kerja yang ada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, pada tahun 1993, membuat Mahyuddin Pasaribu memutuskan untuk bekerja sebagai seorang pembalak liar.
Bersama kawan-kawannya yang berasal dari daerah yang sama, mereka menebang pohon dan menjualnya kepada pengumpul kayu.
Namun di tahun 2002, pemerintah Indonesia mengeluarkan regulasi yang ketat mengenai ekspor kayu dan tindakan tegas bagi para pelaku deforestasi ilegal. Dua tahun kemudian, Mahyuddin pun harus berurusan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Akibatnya, beberapa peralatan miliknya pun disita, dan bisnis kayu yang telah ia jalani tersebut pun terpaksa harus tutup.

Setelah kejadian tersebut, Mahyuddin tetap berusaha mencari jalan lain untuk menghidupi keluarganya. Ia pun mendatangi Riau Andalan Pulp and Paper-sebuah anak perusahaan milik Grup APRIL, yang ketika itu tengah memperluas area operasi-dengan tujuan mencari kesempatan kerja.
“Saya jelaskan kepada mereka bahwa saya sebenarnya tidak berniat melakukan pembalakan liar, namun saya terpaksa melakukannya karena saya butuh uang untuk menafkahi keluarga saya,” ujar Mahyuddin.
Selengkapnya: Mahyuddin, Mantan Pembalak Liar yang Menjadi Pengusaha Sukses
- Detail
Rendy Kurniawan, 13 tahun, tidak lagi harus khawatir saat ingin berangkat sekolah setiap hari berkat Program Desa Bebas Api yang diinisiasi oleh Grup APRIL. Dulu Rendy takut berangkat ke sekolah karena harus melewati jembatan tua dari kayu yang sudah rapuh.
“Saya pernah jatuh dari sepeda, seragam kotor dan basah. Jadi saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak sekolah,” ujar Rendi yang kini duduk di kelas 2 SMP Negeri Tanjung Padang, Kepulauan Padang, Riau.
“Kebanyakan kawan saya pernah mengalami hal yang sama. Mereka akhirnya memilih untuk tidak sekolah. Sekarang semua sudah berubah,” ujarnya.

Desa Tanjung Padang mendapatkan hadiah sebesar Rp 100 juta dalam bentuk hibah infrastuktur dari Program Desa Bebas Api Grup APRIL tahun 2016. Mereka berhasil menjadi desa yang sukses mencegah kebakaran lahan dan hutan sepanjang tahun 2016. Setelah mendapatkan hadiah tersebut, para petinggi desa bersama tokoh masyarakat memutuskan membangun jembatan.
Selengkapnya: Karena Program Desa Bebas Api, Mereka Tidak Perlu Lagi Khawatir Bersekolah
- Detail
Grup APRIL baru saja menandatangani MoU dengan Tanoto Foundation dan Universitas Riau untuk berinvestasi sebesar Rp 28.7 miliar di bidang pendidikan.
Melalui MoU ini, APRIL berinisiatif untuk membangun sarana infrastruktur perkuliahan di Jurusan Teknik Kimia Pulp dan Paper, Fakultas Teknik, Universitas Riau. Selain itu juga dilakukan penandatanganan kerja sama dengan beberapa SMK, yakni berupa bantuan peralatan pendidikan dan pemberdayaan untuk SMKN 1 Pangkalan Kerinci dan SMK Muhammadiyah Pekanbaru.
"Kita melihat adanya potensi, maka dari itu kita berusaha meningkatkan sumber daya manusia muda yang lebih berpendidikan. Dalam sebuah bisnis, sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dan harus dibina sejak awal. Inilah yang kami lakukan hari ini, dengan investasi sebesar Rp28,7 miliar, kami berikan bagi pendidikan di Riau," ujar Direktur Operasional RAPP (anak perusahaan Grup APRIL), M Ali Shabri.

"Kami membangun gedung laboratorium, dan penyediaan alat-alat laboratorium. Mendukung pengembangan kualitas SMKN I Pangkalan Kerinci dan Muhammadiyah Pekanbaru, perangkat pendidikan dengan nilai Rp100 juta per sekolah," tambahnya.
Kerja sama ini juga mendapat apresiasi yang sangat baik dari Menteri Perindustrian, yang turut hadir dalam penandatanganan MoU ini. Menurut Airlangga, kerja sama ini adalah salah satu bentuk upaya penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) industri yang kompeten, dengan melibatkan Perguruan Tinggi di Riau.
Selengkapnya: APRIL Berinvestasi Sebesar Rp 28,7 Miliar untuk Pendidikan di Riau
- Detail
Pada tahun 2015, sebanyak 193 negara anggota PBB, secara bersama-sama mengadopsi sebuah Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang ditargetkan akan tercapai di tahun 2030, yang tergabung dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Terdapat berbagai masalah pembangunan sosial dan ekonomi yang dibahas di dalam SGD, seperti kemiskinan, kelaparan, pendidikan, energi, dan lingkungan. SDG berusaha meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan inklusif secara global, dengan mengutamakan pemerataan, agar tidak ada lagi penduduk dunia yang tertinggal.
“Sebelum SGD ini dirilis, banyak sekali perusahaan yang berkomitmen untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan, contohnya seperti komitmen untuk tidak melakukan penebangan hutan secara liar, atau dengan menerapkan kebijakan pengelolaan hutan lestari, seperti yang kami lakukan di area operasi kami," kata Lucita Jasmin, Director of Sustainability and External Affairs Grup APRIL.

