- Detail
Tahun 2017 merupakan tahun kesuksesan bagi tim Siaga Kebakaran APRIL. Mereka berhasil melalui musim kemarau tanpa insiden besar di sekitar area operasi perusahaan dan secara signifikan mampu mengurangi kebakaran di desa sekitar yang terlibat dalam Program Desa Bebas Api (FFVP).
Namun pencegahan kebakaran –dan asap yang berdampak hingga ke kawasan Asia Tenggara pada tahun 2015- merupakan sebuah usaha berkelanjutan dan rasa berpuas diri tidak boleh berlebihan.

Inilah yang ada dalam benak tim Siaga Kebakaran saat menjalani latihan keras selama masa musim hujan. Tidak lain untuk membuat mereka lebih siap saat musim kemarau tiba.
Tim Siaga Kebakaran berjumlah 1.125 yang terdiri dari tim inti dan tim tambahan. Mereka mendapatkan pelatihan selama dua minggu dalam setahun termasuk simulasi praktik kebakaran dan teori. Bahkan, tim juga dilatih oleh pasukan khusus dari TNI Angkatan Udara, untuk mempelajari teknik bertahan hidup dan teknik menavigasi di lingkungan hutan.
Selengkapnya: Tim Siaga Kebakaran APRIL Berlatih untuk Menaklukkan Musim Kemarau
- Detail
Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, Grup APRIL menjalin kemitraan dengan masyarakat lokal untuk membantu kemandirian ekonomi masyarakat.
APRIL menerapkan program pengembangan masyarakat dalam upaya membantu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup dengan memberikan pelatihan teknikal dan keuangan dari ahlinya.
Pada tahun 2013, APRIL memulai program Batik yang merupakan bagian dari pengembangan program Usaha Kecil dan Menengah yang sudah ada sebelumnya di Kabupaten Pelalawan, Riau.

Batik merupakan kain ciri khas Indonesia yang terdiri dari berbagai macam motif. Dilukis dengan lilin dengan gambar yang rumit dengan tangan atau dicetak.
Selengkapnya: Program Batik Grup April Membantu Kemandirian Ibu Rumah Tangga
- Detail
Lebih dari 25 tahun yang lalu, Kota Pangkalan Kerinci, Riau di Pulau Sumatera di Indonesia hanya dihuni 200 orang kepala keluarga. Saat itu tidak ada jalan sehingga satu-satunya akses hanya berjalan kaki atau naik perahu, dan sebagian besar penduduknya mencari nafkah sebagai nelayan atau penebang liar.

Saat ini kota Kerinci dihuni lebih dari 100.000 orang dengan lapangan udara kecil dan dua pelabihan serta menjadi kota yang memproduksi produk yang digunakan di banyak negara di seluruh dunia.
Selengkapnya: Sebelum dan Sesudah : Perkembangan Kerinci Dalam Gambar
- Detail
Di tengah keterbatasan lahan dan situasi cuaca yang tidak menentu, sistem pertanian terpadu menjadi solusi jitu bagi petani yang ingin mengelola lahan secara produktif dan tetap mendapatkan hasil yang maksimal. Sistem pertanian terpadu adalah sistem pengelolaan pertanian yang bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian yang lebih berkelanjutan, dengan menggunakan berbagai cara budidaya di ruang atau lahan yang kecil.
Sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan dan kegiatan sejenis di dalam satu lahan yang sama tersebut mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani yang selama ini hanya menggantungkan hasil dari lahan tradisional saja. Sistem ini memperpanjang siklus produksi dengan mengoptimalkan pemanfaatan hasil di samping pertanian utama. Artinya, jika masa panen hasil pertanian belum tiba, petani masih mampu menghasilkan pendapatan dari hasil sampingan dengan beternak, berkebun dan budidaya ikan.
Dengan begitu, pendapatan petani akan tetap mengalir, berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan, serta dapat mengatasi masalah kemiskinan yang menjadi prioritas nasional. Sebagai perusahaan yang mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah operasional, APRIL mendukung penerapan sistem tersebut dengan menginisiasi Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System/IFS) sejak 1999.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Pengembangan Masyarakat yang menyediakan pelatihan bagi petani, memfasilitasi bantuan teknis dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan petani dari kegiatan agribisnis. Hingga hari ini, program ini telah melibatkan 2.200 petani dan 119 kelompok tani dengan luas lahan mencapai 1.632 hektar.

Pada tahun 2017, sebanyak 167 petani mendapatkan pelatihan mengolah lahan pertanian serta 57 kelompok tani mendapatkan dukungan berupa bahan pertanian. Sejauh ini sebanyak 2.200 rumah tangga mendapatkan bantuan berupa bahan pertanian yang disalurkan melalui program ini.




