- Detail
Sebuah perusahaan tidak akan bisa beroperasi dengan baik apabila tidak melibatkan masyarakat yang ada di sekitarnya, karena secara tidak langsung, masyarakat tersebut telah menjadi bagian dari perusahaan itu sendiri. Namun dalam proses menjalin relasi dengan masyarakat tersebut tidaklah mudah. Lalu bagaimanakah caranya agar bisa merangkul masyarakat tersebut dengan tidak hanya mengajak mereka dalam sebuah program kemitraan saja, tapi juga mengubah mereka agar tidak lagi menggunakan pola pikir yang konvensional?
Hal inilah yang menjadi tantangan bagi APRIL ketika pertama kali mendesain sebuah program bernama Fire Free Village Program (FFVP)-atau yang lebih dikenal dengan Program Desa Bebas Api-yang kini telah sukses dan terlihat manfaatnya bagi masyarakat.
“FFVP merupakan sebuah program yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran dengan cara pendekatan kepada masyarakat,” ujar Craig Tribolet, Strategic Fire Management Manager APRIL Group.
Hingga kini, FFVP telah merangkul sebanyak 77 desa di sekitar kawasan konsesi APRIL dan telah mengedukasi mereka agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dikhawatirkan akan terjadi bencana kabut asap seperti pada tahun 2015 lalu.
Selengkapnya: Cara APRIL Merangkul Masyarakat Melalui Program Desa Bebas Api
- Detail
Masyarakat Desa Teluk Dalam, Provinsi Riau, Indonesia patut berbangga, karena salah satu putra kelahirannya berhasil menorehkan prestasi yang sangat tinggi. Dialah Yogi Suardiwerianto, yang berhasil meraih gelar Master di negeri kincir angin, Belanda yang didukung oleh Grup APRIL. Desa Teluk Dalam merupakan daerah terpencil yang jauh dari perkotaan. Untuk mencapai desa tersebut, paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 3 jam mengendarai speed boat dari kota terdekat.
Sebelumnya pria berumur 30 tahun ini menempuh studi di Jurusan Ilmu Kelautan di Intstitut Pertanian Bogor (IPB). Kemudian di tahun 2011 ia kembali ke Riau untuk mencari pekerjaan. Yogi pun berhasil bergabung dengan Riau Andalan Pulp & Paper, salah satu perusahaan kertas dan bubur kertas terkemuka di Riau, di bawah naungan Grup APRIL. Ia menjabat sebagai Assistant Trainee di Departemen Manajemen Lahan Gambut.
Di tahun 2015, kabar baik pun menghampiri Yogi. Salah satu atasannya meminta Yogi untuk mengikuti program pendidikan lanjutan bagi karyawan. Dengan tujuan agar Yogi bisa melanjutkan studinya hingga mendapatkan gelar Master, dan tentunya semua biayanya ditanggung oleh Grup APRIL. Hal ini merupakan bagian dari komitmenperusahaan yang ingin terus berinvestasi kepada setiap karyawannya.

Selengkapnya: Kisah Sukses Yogi : Putra Daerah Asal Kampar yang Meraih Gelar Master di Belanda
- Detail
Pernahkah kalian membayangkan tinggal di sebuah gubuk yang berada di tengah-tengah perkebunan sawit, tak ada aliran listrik maupun saluran air bersih, dan semua serba terbatas?
Kesulitan tersebut pernah dirasakan Ni’mah, seorang pengrajin batik kelahiran Brebes, Jawa Tengah, yang kini tinggal di Pangkalan Kerinci, Riau, Indonesia.
“Dulu saya tinggal di sebuah perkebunan sawit di Pangkalan Kerinci. Di sana cuma ada 7 keluarga. Tidak ada listrik, jalannya masih tanah. Kalau hujan, becek dan berlumpur.
“Kalau saya mau ke pasar harus jalan kaki 5 kilometer,” Ni’mah memulai ceritanya.

Selengkapnya: Grup APRIL Membantu Ni’mah Merubah Hidupnya Lewat Batik
- Detail
Menjalani profesi sebagai seorang buruh lepas di pelabuhan selama bertahun-tahun, membuat Indra Gunawan merasa tak ada perkembangan dalam hidupnya. Selain karena jarang bertemu dengan keluarga, ia juga merasa belum mampu memberikan yang terbaik kepada anak dan istrinya.
“Kurang lebih selama 6 tahun saya bekerja sebagai buruh di pelabuhan, dari tahun 2006 hingga tahun 2012,” kata Indra. “Penghasilan saya sebagai seorang buruh juga tergolong sangat kecil,” lanjut Indra.
Hal ini membuat Indra memutuskan untuk beralih profesi dari seorang buruh menjadi seorang petani hortikultura di Kerinci Kanan, Provinsi Riau.
“Alasan pertama saya beralih profesi karena saya ingin dekat dengan keluarga dan masyarakat sekitar saya,” ucap Indra. “Yang kedua, enaknya menjadi petani itu tidak ada yang mengatur kita,” lanjut Indra.

Selengkapnya: Indra Gunawan, Transformasi Seorang Buruh Pelabuhan, Menjadi Petani Sukses



