- Detail
Tahun 2014, lahan seluas 300 hektar di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, provinsi Riau, Indonesia terbakar. Sulaiman, 42 tahun, adalah salah satu petugas yang ikut membantu memadamkan api dalam kebakaran hutan tersebut.
Sulaiman merupakan anggota dari Fast Emergency Response Team (FERT) di at PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dimana mereka bertanggung jawab dalam mengendalikan kebakaran hutan yang dapat berpengaruh terhadap konsesi RAPP.
Meskipun kebakaran di Pulai Rupat bukan bagian dari konsesi RAPP, Sulaiman dan timnya tetap bertekad untuk membantu memadamkan dan berjuang bersama pemadam kebakaran dari polisi dan pemerintah setempat.
“Selama 2 minggu, kami ada disana untuk membantu. Kami harus jalan jauh ke dalam hutan untuk menemukan darimana sumber api tersebut berasal” cerita Sulaiman.
Ia juga bercerita bahwa tim harus berjalan kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai sumber api dikarenakan tidak ada akses langsung menuju lokasi. Dalam perjalanannya, mereka membawa peralatan pemadam kebakaran dan sumber air mereka.
Dikarenakan hal tersebut, Sulaiman dan tim harus rela untuk tinggal di dalam hutan dengan keterbatasan makanan selama dua minggu. Karena tidak mungkin bagi mereka untuk meninggalkan hutan di tengah-tengah upaya pemadaman kebakaran kala itu.
“Berbagai tantangan kami lalui selama di lapangan, namun pada akhirnya semua terbayarkan, kami dapat mengatasi kebakaran hutan ini” lanjut Sulaiman.
Selengkapnya: Berjuang dalam kebakaran hutan untuk mencari nafkah
- Detail
Beberapa tahun yang lalu, kehidupan Apo, 32 tahun, dan keluarganya sungguh sangat berat.
Apo merupakan salah satu warga desa Penyengat yang masih menggantungkan penghasilnya pada perkebunan. Namun karena keterbatasan peralatan dan lahan, hasil yang didapat pun tidak maksimal, pendapatannya hanya berkisar Rp 300.000 hingga Rp 500.000
“Mungkin karena lahan yang tidak besar dan tidak fokus sehingga hasilnya tidak banyak,” ujar Apo.
Apo memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa meningkatkan perekonomiannya. Kemudian ia memutuskan untuk bergabung bersama Kelompok Bina Tani yang ada di desanya. Apo bersama dengan kelompok Bina Tani kemudian mendapatkan pembinaan dari departemen Pengembangan Masyarakat PT RAPP yang mengarahkan pada program One Village One Commodity (OVOC).

Selengkapnya: Nanas Penyengat Hasil Satu Desa Satu Komoditas
- Detail
Di masa pandemi ini, madu menjadi salah satu produk yang dicari masyarakat berkat khasiatnya yang ampuh menjaga daya tahan tubuh dan segudang manfaat kesehatan lainnya.
Cairan kental manis yang dihasilkan oleh lebah ini kaya vitamin dan antioksidan yang dapat mencegah kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas. Tak heran, pengobatan berbasis madu banyak diaplikasikan untuk mengobati sejumlah penyakit, seperti batuk, masalah pencernaan hingga untuk kesehatan jantung.
Sebagai negara tropis, Indonesia kaya akan produksi madu. Salah satunya adalah Madu Sialang yang dapat ditemukan di Sumatra, utamanya di Provinsi Riau.

Yang menarik, madu ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat lokal. Pasalnya, proses pemanenan madu Sialang telah menjadi praktek budaya yang sudah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan.
Selain syarat kearifan daerah, madu sialang juga memiliki rasa yang tidak terlalu manis dengan aroma yang lebih kuat.
- Detail
Ketika menginjak usia 30 tahun, Rahmi dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal bersama keluarganya, atau harus berpisah sementara demi meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
“Seumur-umur, saya tidak pernah jauh dari keluarga saya. Apalagi, ketika itu anak perempuan saya baru berumur dua tahun,” kenangnya.

Saat itu Rahmi menjadi salah satu dari dua orang yang dipilih oleh tim Pengembangan Masyarakat PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), untuk mengikuti pelatihan menenun kain yang diadakan di Pekanbaru, Riau. Sedangkan, Rahmi bersama keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil di Pelalawan, yang jaraknya 139 km dari Pekanbaru. Mau tidak mau, untuk membantu meringankan beban suaminya yang hanya bekerja di tempat cuci mobil, Rahmi tetap harus pergi meninggalkan keluarganya.
Selama masa pelatihan, Rahmi mempelajari teknik-teknik dasar menenun kain, berbagai macam jenis pola kain tenun, dan berbagai fungsi dan kegunaan alat-alat penenun kain.
Selengkapnya: Program Tenun RAPP, Bantu Perempuan untuk Tingkatkan Taraf hidup



